Jepang Pasok 6 Kapal Patroli Baru ke Negara Sahabat

Japanese Maritime Self-Defense Force latihan bersama AL Vietnam, 18/2/2016 (credit : Japanbullet.com)

Hanoi – Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Senin, 16/01/2017 menjanjikan Vietnam enam kapal patroli baru dalam kunjungannya di negara Asia Tenggara bersengketa dengan China atas jalur pelayaran sibuk di Laut China Selatan itu.

Persinggahan Abe di Vietnam melengkapi lawatan melalui “busur” dari daerah tempat Jepang mempertaruhkan kepemimpinannya dalam menghadapi kekuasaan China, yang berkembang dan ketidakpastian atas perubahan melalui kebijakan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

“Kami akan sangat mendukung Vietnam meningkatkan kemampuannya menegakkan hukum laut,” ujar Abe, dengan menekankan bahwa sengketa Laut China Selatan harus diselesaikan melalui perundingan dan sesuai dengan hukum internasional.

China mendaku hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, tempat sekitar lima triliun dolar Amerika Serikat perdagangan laut melewati wilayah tersebut setiap tahun. Vietnam dan empat negara lain juga memiliki klaim di laut tersebut, yang diyakini memiliki cadangan kaya akan minyak dan gas.

Tokyo tidak memiliki klaim wilayah di sana, tapi khawatir terhadap perkembangan militer China yang mencapai ke dalam alur laut. Jepang memiliki sengketa terpisah dengan China atas gugusan pulau kecil di Laut China Timur.

Pada September, Jepang telah mengatakan siap untuk memberikan kapal patroli baru ke Vietnam setelah sebelumnya memasok enam kapal tua.

Keamanan dan perdagangan laut menjadi tema utama selama mengunjungi negara lain di kawaan itu, seperti, Indonesia, Filipina, dan Australia.

Mengingat kesiapan Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte untuk lebih mendekatkan hubungan ke China dan menjauhi dari sekutu tradisionalnya, Amerika Serikat, maka Vietnam menjadi salah satu dari sedikit negara-negara regional yang menunjukkan potensi kesiapan untuk menghadapi China.

Ketidakpastian kebijakan Amerika di Asia diperkuat pada pekan lalu melalui komentar dari calon Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, yang mengatakan China harus menghentikan pembangunan pulau-pulau di Laut China Selatan dan melarang akses ke pulau-pulau tersebut.

Meskipun ada perbedaan, Vietnam juga tetap mempertahankan jalur diplomatik yang kuat dengan China. Kedua negara mengatakan pada akhir pekan bahwa mereka telah sepakat untuk mengatur perbedaan maritim mereka dan menjaga perdamaian dan stabilitas.

Baik Jepang dan Vietnam juga menjadi pendukung kuat dari pakta perdagangan bebas Trans-Pacific Partnership (TPP) yang tampaknya telah terhenti akibat janji Trump yang akan menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut.

Di Hanoi, Abe menekankan betapa pentingnya TPP dan perjanjian perdagangan bebas lainnya, tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Perutusan menandatangani sejumlah perjanjian niaga, termasuk di bidang energi, tekstil, dan untuk membantu menghadapi dampak perubahan iklim. Jepang pemodal asing terbesar di Vietnam setelah Korea Selatan.

Antara/Reuters