Pemilihan Shortfin Barracuda Mendapat Kritik Mantan Kepala ASC Australia

Hasil render kapal selam Shortfin Barracuda buatan DCNS Perancis yang di pesan oleh Angkatan Laut Australia. (Foto: DCNS)

Konsep di balik kapal selam Shortfin Barracuda Blok 1A yang dipilih untuk menggantikan armada Collins-Class Australia telah dikritik oleh orang yang bertanggung jawab untuk pembangunan kapal selam Collins-Class, demikian seperti diberitakan IHS Jane pada hari Selasa (17/01/2017).

Seharusnya Royal Australian Navy (RAN) menunda konsep yang ditawarkan oleh pembuat kapal DCNS Perancis, “Itu menjadi akuisisi tak diharapkan tanpa pemberitahuan angkatan laut akan pertimbangan commissioning ke dalam layanan”, kata Hans Ohff, yang pernah menjabat sebagai Direktur Australian Submarine Corporation (ASC) antara tahun 1993-2002.

Menulis pada 16 Januari di The Strategist, situs komentar dan analisis dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), Ohff mengatakan bahwa RAN akan memiliki kapal selam yang mahal untuk dibangun, dipelihara, dan dioperasikan.

“Kapal selam ini akan menjadi kelas yang tidak memiliki martabat; sangat disayangkan untuk semua alasan yang salah”, katanya.

Pemerintah di Canberra mengumumkan pada bulan April 2016 bahwa DCNS telah mengalahkan tawaran Jepang dan Jerman untuk merancang dan membangun 12 kapal selam generasi berikutnya untuk menggantikan enam kapal selam Collins-Class milik RAN.

Desain yang diusulkan oleh DCNS dipilih untuk memenuhi persyaratan Kapal Selam Masa Depan Australia di bawah program SEA1000. Meskipun Australia memiliki kemampuan yang cukup dalam konstruksi Angkatan Laut, Ohff tetap meragukan bahwa kapal selam diesel-listrik jarak jauh dengan bobot 5.100 ton dapat dirancang dan dibangun secara lokal.

Dia juga menulis ia tidak yakin bahwa kelas seperti itu akan lebih mematikan daripada kelas jarak jauh yang lebih kecil, dengan mencatat bahwa Grup Pertahanan Sains dan Technology di Departemen Pertahanan (DoD) Australia telah menegaskan dalam sebuah laporan baru-baru ini bahwa ukuran dan kekuatan dari kapal selam ditingkatkan, keunggulan dalam hal jangkauan, kecepatan, dan daya tahan akhirnya akan berkurang.

Selain itu, Ohff menulis bahwa “kesalahan tak termaafkan” oleh perencana pertahanan yang berada di balik keputusan untuk pengadaan kapal selam yang tidak akan memiliki propulsi udara-independen (AIP) dan tetap berdasarkan pada penggunaan lead-acid daripada penggunaan teknologi lithium-ion yang mampu mengeliminasi proses berbahaya dari ventilasi hidrogen.

JakartaGreater