Bukti Rentannya Leopard Jerman Dalam Perang Suriah

Tank Leopard 2 militer Jerman dalam latihan Saber Junction 2012 di Hohenfels, Jerman. (Foto: U.S. Army)

KAISERSLAUTERN – Reputasi tank Leopard 2 kebanggaan Jerman, sebagai andalan pasukan lapis baja NATO, cukup mengejutkan dalam bertempur melawan militan ISIS di Suriah.

Setidaknya 10 unit dari tank tempur utama berbobot 60 ton ini telah hancur dalam upaya Turki merebut kembali kota strategis disebelah utara Al-Bab, yang terletak hanya 15 mil di bagian selatan dari perbatasan Turki, menurut laporan media.

Situs berita online Stars and Stripes mewartakan, Turki telah mengerahkan ribuan tentara dalam operasi, yang dimulai pada bulan September. Puluhan tentara Turki dan sekutu lokal tewas dalam pertempuran tersebut.

Surat kabar Welt Die Jerman mengatakan sedikitnya 10 unit Leopard 2 hancur dan banyak lagi yang rusak di jalan selama pertempuran di pinggiran kota Al-Bab. Para pemberontak mengatakan bahwa mereka telah menggunakan TOW buatan AS dan rudal anti-tank Kornet buatan Rusia untuk menyerang armada tank Turki.

Para pemimpin Turki telah mengkritik pemerintahan Obama bulan lalu karena tidak memberikan dukungan serangan udara saat unit mereka terlibat dalam operasi Al-Bab.

Leopard 2 dengan bobot 60-ton, yang dibangun oleh Bayern Krauss-Maffei, telah dalam pelayanan sejak tahun 1980-an. Sebanyak 2.100 unit telah dibeli oleh tentara Jerman. Tapi setelah berakhirnya Perang Dingin, pemotongan anggaran pertahanan menyebabkan pengurangan tank dalam hal jumlah, dan hanya 325 unit versi modern saat ini yang masih berada dalam inventaris Jerman. Sekitar 20 di antaranya model Leopard 2A7 yang secara total didesain ulang dan dimodernisasi, tetapi sisanya adalah model Leopard 2A4, sama seperti yang digunakan oleh tentara Turki.

Leopard 2 telah diekspor secara luas selama bertahun-tahun. Sejumlah negara – termasuk Austria, Denmark, Finlandia, Yunani, Belanda, Turki, Spanyol, Swedia dan Swiss telah melengkapi angkatan bersenjata mereka dengan model tersebut.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, tentara Jerman mulai menjual surplus kendaraan lapis bajanya, dan banyak sekutu lainnya, seperti Polandia mengambil keuntungan dari diskon yang diberikan untuk melengkapi armada lapis baja mereka dengan tank Jerman.

Tank ini mendapatkan reputasi “indestructible” (tak dapat dihancurkan) pada tahun 2003, ketika sebuah Leopard 2 milik Kanada menjadi terkenal karena berhasil selamat tanpa jatuh korban dan hanya mendapat kerusakan kecil akibat ledakan ranjau darat Taliban.

Namun kritikus mengatakan bahwa tank-tank tersebut, secara khusus dirancang untuk melawan kendaraan lapis baja Soviet melalui dataran disebelah utara Jerman, tidak cocok untuk digunakan dalam pertempuran di lingkungan perkotaan.

Lapis baja pada bagian depan lambung dan menara pada Leopard 2 memang lebih tebal dari pada lapis baja yang terdapat dibagian samping dan belakang kendaraan ini.

Desainer tank berusaha untuk mencapai kombinasi perlindungan optimal, kelincahan, dan kekuatan tembakan, selalu menekankan perlunya manuver di medan perang, membuat lapis baja pada bagian kiri dan kanan serta belakang lebih ringan dari pada tank Barat lain seperti M1A2 Abrams buatan AS atau Challenger 2 buatan Inggris.

Leopard 2 Turki juga tidak memiliki pelindung lapis baja reaktif peledak atau sistem proteksi aktif untuk memblokir serangan yang datang. Sistem proteksi aktif mampu menangani ancaman seperti granat roket atau rudal anti-tank berpemandu dengan menggabungkan deteksi elektronik serangan musuh dengan jammers, tabir asap dan pencegat yang dimaksudkan untuk menetralisir ancaman.

Para militan ISIS tampaknya telah mengetahui akan kerentanan ini untuk menyerang Leopard 2 ketika memasuki Al-Bab, menargetkan bagian belakang tank dalam serangan yang memaksa tentara Turki untuk meninggalkan kota tersebut.

Ralf Rath, kepala Panzermuseum di Munster, mengatakan “Berlawanan dengan persepsi umum, tank bukanlah pejuang individual, tank selalu membutuhkan infanteri disampingnya yang dapat melindungi sisi-sisi rentan mereka”.

JakartaGreater