Duterte : Negosiasi dengan Pemberontak Dibatalkan

Tentara Filipina (istimewa)

Manila – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan negosiasi damai dengan Maois yang memimpin pemberontakan dibatalkan, 4/2/2017, lima bulan setelah keduanya melangsungkan pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir lima dasawarsa hingga menewaskan lebih dari 40 ribu orang.

Duterte menghentikan gencatan senjata Jumat (3/2/2017), dua hari setelah Tentara Rakyat Baru (NPA) melakukan hal yang sama.

Duterte jengkel oleh pembunuhan dan penculikan pasukan pemerintahan sejak NP mencabut kesepakatan gencatan senjata itu.

Pernyataan Duterte menyebutkan para pimpinan komunis yang oleh pemerintah Filipina dibebaskan sementara agar ikut ambil bagian dalam pembicaraan damai di luar negeri akan kembali dijebloskan ke dalam tahanan.

“Besok saya akan meminta pasukan Filipina untuk melipat tenda-tenda dan pulang ke rumah,” ujar Duterte..

Hanya saja dia menyarankan agar pintu tidak tertutup rapat.

“Mereka akan menghentikannya, kecuali ada alasan yang cukup kuat…bahwa akan ada manfaatnya bagi kepentingan bangsa ini,” Duterte menambahkan.

Para juru runding dari kedua pihak bertemu di Roma, Italia, untuk meningkatkan pembicaraan gencatan senjata, namun gagal karena para pemberontak menuntut pembebasan 400 orang lebih tahanan politik, termasuk seorang pria yang membunuh seorang kolonel Amerika Serikat pada tahun 1989.

Mereka kembali ke Belanda dalam tiga pekan untuk melangsungkan pembicaraan mengenai reformasi di bidang politik, sosial, dan ekonomi, termasuk kesepakatan mengenai gencatan senjata bilateral.

Tentara Rakyat Baru mengakhiri gencatan senjata dengan menuduh pihak militer melakukan pelanggaran atas gencatan senjata melalui pendudukan beberapa area terbatas.

Gencatan senjata pecah karena lemahnya aturan-aturan yang disepakati.

Pihak militer, NPA, dan sejumlah juru runding dari pihak pemerintah mengharapkan pembicaraan damai bisa dilakukan, namun pernyataan terakhir Duterte menyatakan dia telah kehilangan kesabaran dalam proses yang dia buat untuk prioritas utama.

Pada Jumat (3/2/2017), Duterte memerintahkan pasukan militer memburu para gerilyawan dan menuduh pihak komunis tidak bisa dipercaya dalam melakukan negosiasi.

Dia menuduh mereka melanjutkan perekrutan para pemberontak, menyerang para pengusaha, melakukan pemerasan terhadap para pemilik perkebunan, pertambangan, dan perusahaan-perusahaan transportasi.

NPA yang dibentuk pada tahun 1969 terus melancarkan peperangan secara berturut-turut untuk menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis di Filipina itu.

Pada puncaknya, NPA memiliki 25 ribu pemberontak bersenjata, namun sekarang tinggal sekitar tiga ribu orang.

Pemerintah Filipina telah memasukkan NPA sebagai organisasi teroris pada tahun 2011 dan NPA diduga telah mendapat dukungan dari Korea Utara.

Antara/Reuters