Ini Tiga Teknologi Su-35 yang Diincar China

Foto : Pravda.Ru

Setelah menerima empat Su-35 pada akhir tahun 2016, China kembali akan menerima 10 unit Su-35 pada tahun 2017, dan 10 unit terakhir pada tahun 2018. Pesawat tempur terbaru China tersebut ditempatkan di pangkalan udara Suixi di provinsi Guangdong, yang merupakan pangkalan udara terdekat dengan Laut Cina Selatan.

Meski sudah mampu membangun pesawat tempur sendiri, mengapa China masih mengincar pesawat tempur Su-35 dari Rusia?

Ternyata ada tiga teknologi penting yang diincar oleh China dari pesawat tempur Su-35 buatan Rusia.

Satu yang paling diincar adalah teknologi mesin Saturn AL-117. Santer kita ketahui China sangat menginginkan teknologi mesin canggih Saturn AL-117 yang melengkapi pesawat tempur Su-35. Mesin Saturn AL-117 nantinya akan dipasangkan ke pesawat tempur siluman J-20 yang sedang dikembangkan China.

Rusia akhirnya mengijinkan pembelian Su-35 setelah China sepakat untuk tidak meng-copy teknologi mesin Saturn AL-117. Selain itu menurut Rusia, teknologi mesin Saturn AL-117 tidak akan mudah ditiru.

Untuk membuka dan menganalisa teknologi mesin Saturn AL-117 sangat sulit, membutuhkan perhitungan dan siklus produksi yang sangat kompleks. Dibutuhkan teknologi robot dan kemampuan khusus dari insinyur mesin yang berpengalaman.

Untuk menjamin akurasi dan keamanan, pengerjaan dilakukan robot di ruang isolasi khusus yang kedap panas. Selain itu pemasangan beberapa komponen mesin membutuhkan pengerjaan dari teknisi khusus yang berpengalaman, yang justru tidak bisa dirakit dengan menggunakan mesin. Kemampuan yang membuat industri Cina mungkin akan kesulitan untuk menirunya.

Kedua adalah teknologi sistem IRST (Infra-Red search and track) OLS-35. Teknologi OLS-35 dirancang dengan dua kemampuan sekaligus. Selain melacak dan mendeteksi jejak panas dan infra-merah dari target udara seperti pesawat tempur siluman pada jarak 50 km, OLS-35 juga mampu melacak dan menetapkan target di permukaan pada jarak 20 km.

Dan ketiga adalah teknologi radar Irbis-E. Meski konon sudah mampu membangun radar AESA versi dalam negeri, China ternyata juga membutuhkan teknologi radar irbis-E.

Radar Irbis-E merupakan salah satu radar terkuat didunia. Memiliki jangkauan hingga 350 km pada target udara dengan radar cross section (RCS) 3m2. Radar irbis-E mampu mendeteksi pesawat tempur siluman F-22 Raptor dengan RCS sebesar ‘kelereng’ pada jarak 31 km.

Radar Irbis-E juga memiliki kemampuan mengidentifikasi teman atau musuh pada target udara dan target kapal permukaan, mampu mengidentifikasi tipe dan ukuran target di udara, disegala cuaca dan tetap efektif walau menghadapi gangguan dari serangan elektronik musuh.

Jakartagreater