Analis Militer: “Sistem Pertahanan Rudal Jepang Tak Bisa Mencegat Rudal-Rudal China”

Baru-baru ini Amerika Serikat dan Jepang berhasil melakukan uji pencegatan rudal dari Kepulauan Hawaii pada tanggal 4 Februari. USS John Paul Jones berhasil menghancurkan target rudal balistik menggunakan pencegat rudal Standard Missile-3 (SM-3) Block IIA, menurut pernyataan laporan itu. (China Military)

Tapi seorang analis militer menunjukkan bahwa senjata baru milik Jepang tersebut tidak dapat mengancam China. Ia percaya bahwa pencegat rudal SM-3 Blok IIA, bersama-sama dengan sistem Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) yang didukung AS, telah menciptakan berbagai sistem pertahanan yang lebih luas untuk menangkal China, dan akan mengancam stabilitas keamanan di kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan.

“China selalu percaya bahwa masalah anti-rudal berdampak pada sikap saling percaya antar negara-negara besar dan juga stabilitas strategis global, oleh karena karena itu harus didekati secara hati-hati”, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang. Pada konferensi pers pada tanggal 6 Februari mengatakan, “Kami mengambil sikap tegas kepada Amerika Serikat dan Korea Selatan atas penggelaran sistem pertahanan anti-rudal THAAD di Seoul”.

Seorang analis pertahanan asal Rusia mengatakan bahwa sistem pertahanan rudal global Amerika Serikat pada akhirnya digunakan untuk menargetkan kemampuan penangkal nuklir dari China dan Rusia.

Yang Chengjun, seorang ahli rudal asal China mengatakan bahwa setelah upgrade dan penyebaran sistem rudal SM-3 selesai, itu akan mendorong aksi militerisme atas Jepang dan mengancam perdamaian serta stabilitas keamanan di kawasan Asia-Pasifik.

AS dan Jepang juga membahas pertahanan rudal balistik selama kunjungan Menteri Pertahanan AS, James Mattis ke Jepang, menurut laporan berita Kyodo News. Sistem rudal SM-3 akan sangat meningkatkan kemampuan pertahanan rudal balistik Jepang, menurut harian Yomiuri Shimbun.

“Akan tetapi sistem pertahanan rudal SM-3 tidak akan bisa mencegat setiap rudal dari China dalam pertempuran nyata”, kata Yang.

Shunzi Taoka, seorang analis militer Jepang, ia berpendapat bahwa Washington merasa hubungan bilateral yang harmonis dengan China lebih penting daripada dengan Jepang. Terlepas dari adanya penyeimbangan oleh China, AS berupaya untuk terus meningkatkan hubungan saling percaya dengan China.

JakartaGreater