India Batalkan Kontrak Rudal QR-SAM Israel?

Kementerian Pertahanan (MoD) India berencana untuk membatalkan kontrak pembelian rudal permukaan-ke-udara (QR-SAM) untuk Angkatan Darat India guna menggantikan unit OSA-AK (SA-8) dan SA-6 buatan Soviet. (IDRW)

Langkah tersebut merupakan sebuah tamparan atas inisiatif “Make in India” kepada perusahaan yang terpilih untuk membuat bagian utama dari sistem tersebut di India.

Angkatan Bersenjata telah melakukan uji coba di lapangan pada tahun 2014-2015 dari sistem rudal buatan Rosoboronexport dari Rusia, Rafael Advanced Defense Systems dari Israel dan SAAB dari Swedia.

Sumber mengatakan bahwa “ada perbedaan pendapat atas kepatuhan sistem yang diuji karena terdapat perbedaan yang sangat kecil dan QR-SAM Spyder dari Israel dilaporkan keluar sebagai pemenang”.

Namun, masalah itu diangkat dalam pertemuan Dewan Akuisisi Pertahanan pada bulan September 2016 yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Manohar Parrikar. Penetapan pilihan sebaiknya dilakukan atas tawaran komersial dari ketiga produsen meskipun hanya ada perbedaan kecil atau melanjutkan pada vendor tunggal”, jelas sumber itu.

Diputuskan pada September 2016 untuk mengeksplorasi pilihan atas vendor lainnya serta melakukan review pada rudal Akash dalam negeri yang dikembangkan oleh Organisasi Riset dan Pengembangan Pertahanan (DRDO).

“Angkatan Udara India tidak memiliki masalah yang sama seperti Angkatan Darat dan diatur untuk segera mengakuisisi empat Spyder yang dikembangkan Israel. Termasuk juga akuisisi 15 skuadron sistem rudal Akash senilai 1,74 milyar dollar untuk menjaga pangkalan udara”, tambah sumber itu.

Sekarang, dengan rencana Kementrian Pertahanan untuk membatalkan rencana pengadaan tersebut, vendor sangat marah dan sekarang mempertanyakan kredibilitas dari permintaan proposal (RFP) yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan dan kemudian dibatalkan.

Seorang eksekutif senior dari salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam uji coba menyatakan bahwa, “Banyak uang yang diinvestasikan dalam proses tersebut termasuk menanggapi uji coba yang dilakukan dalam cuaca panas dan dingin yang ekstrim. Pemerintah, setelah melalui semua prosedur ini, tiba-tiba menerbitkan memo RFP yang menyebabkan ketidaknyamanan serta kerugian keuangan”.

Angkatan Bersenjata India telah mengirimkan permintaan untuk informasi (RFI) pada sistem rudal permukaan-ke-udara jarak pendek baru untuk menggantikan unit OSA-AK (SA-8) dan SA-6 buatan Soviet yang sudah tua pada 2010, dan telah mencari informasi untuk sistem rudal dengan bimbingan aktif dan pasif, memiliki jangkauan 20 km dengan kapasitas untuk menyergap target yang bergerak pada kecepatan 1.800 km/jam (1,45 mach) dan termasuk target yang melayang di udara lainnya.

JakartaGreater