Calon Tentara Jerman Alami Pelecehan Seksual dan Tindakan Sadis

Penyelidikan atas terjadinya pelanggaran di pangkalan militer Pfullendorf dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Jerman, Bundeswehr. Hasil penyelidikan tersebut menyimpulkan bahwa pelecehan seksual dan tindakan sadis telah umum dilakukan dalam pelatihan Combat First Responder.

Salah seorang siswa wanita, Nicole E, menceritakan para instruktur yang ada di markas berulang kali memaksanya untuk menelan rasa malu dalam “tes rekrutmen” yang menyuruhnya melakukan tarian erotis di sebuah tiang di dalam barak.

Instruktur-instruktur yang menonton sering mengambil foto-foto selama tarian erotis tersebut, dan mengatakan bahwa foto-foto itu merupakan bagian dari pelatihan.

Para supervisor (pengawas) yang bertugas memantau jalannya kegiatan di markas rupanya menganggap situasi ini sebagai kegiatan yang biasa bahkan sebagian diantaranya turut ambil bagian.

“Sebuah tiang yang biasa terlihat di klub-klub tarian telanjang ditemukan telah terpasang di tengah-tengah salah satu barak, sementara para siswa wanita sering dipaksa untuk melakukan rutinitas tarian”, menurut hasil temuan penyidik militer.

Penyidik juga menemukan sejumlah rak yang penuh dengan botol Schnapps yang telah dibuka di dalam ruangan tersebut dan menyimpulkan bahwa para pelaku menonton “pertunjukan” sambil menenggak minuman keras.

Selama sesi pelatihan di markas, para siswa wanita dipaksa untuk telanjang, dan kemudian daerah intimnya disentuh tanpa mengenakan sarung tangan. Selain banyak pelecehan pada siswa wanita, para siswa pria juga tidak luput dari pelecehan yang dilakukan para instruktur dan dipaksa untuk ambil bagian dalam pelatihan medis dan dipaksa memasukkan gulungan perban ke anus mereka.

Dan ironisnya korban-korban tersebut dipaksa oleh para pelaku untuk mengisi “formulir persetujuan” agar mereka terlindung dari tuduhan. Laporan yang memberatkan mengatakan bahwa situasi di Pfullendorf adalah sebagai “lemahnya manajemen, pelatihan, pendidikan dan pengawasan tugas”.

Penanganan masalah ini secara efektif akan melibatkan “pergeseran pola pikir secara radikal” dari setiap anggota personil militer di pangkalan. Namun, kelima instruktur yang dituduh telah melakukan pelanggaran itu hanya di mutasi ke bagian lain di dalam pangkalan atau dikirim ke fasilitas militer lainnya.

Bahkan diantaranya ada yang ditawari posisi elit dalam Angkatan Bersenjata Jerman, Bundeswehr.

Ini bukan pertama kalinya Angkatan Bersenjata Jerman, Bundeswehr terlibat dalam kontroversi besar. Beberapa kasus kekerasan pernah didokumentasikan dalam sebuah unit militer di North Rhine, Westphalia pada tahun 2004.

Pada tahun 2006, sejumlah perwira junior di sebuah pangkalan yang ada di Niderauerbach menjadi sasaran penghinaan dan pelecehan seksual, serta dipaksa untuk menanggalkan pakaian dan berdiri telanjang sementara para senior mengejek mereka.

Pada tahun 2009, seorang kolonel Angkatan Darat Jerman memerintahkan serangan udara pada truk bahan bakar di Afghanistan, yang mengakibatkan kematian 142 warga sipil di Afghanistan. Dia dituduh telah melanggar aturan NATO, memberikan perintah tanpa analisis yang akurat mengenai situasi.

Sputnik News