Pertempuran Sengit Militer Suriah – IS di Palmyra

Pasukan penyapu ranjau dan bahan peledak Rusia yang beroperasi di Aleppo, Suriah 29/12/2016 (Foto : Ministry of Defence of the Russian Federation)

Damaskus – Pasukan Suriah telah berada 24 kilometer dari Kota Kuno Palmyra di Suriah Tengah, sebagai bagian dari operasi untuk merebut kembali kota tersebut, yang untuk kedua kali dikuasai oleh IS pada Desember lalu.

Pertempuran sengit berkecamuk antara prajurit militer Suriah dan petempur IS di gurun Palmyra, di pinggir timur Provinsi Homs di Suriah Tengah, ujar Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia.

Kelompok pemantau yang berpusat di Inggris itu mengatakan, pertempuran yang didukung oleh serangan udara gencar terhadap posisi IS, adalah gerak maju baru militer Suriah dan petempur sekutunya di gurun kota oasis kuno itu.

Militer Suriah, ungkap Observatorium, telah merebut banyak wilayah di Bayarat di dekat Palmyra, demikian laporan Xinhua, yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad siang. Ditambahkannya, banyak korab jiwa dilaporkan dari kedua pihak.

IS merebut kembali Palmyra pada Desember lalu, setelah mengerahkan bala-bantuan. Kelompok fanatik itu juga menguasai kembali ladang minyak dan gas di sekitarnya.

Pasukan Suriah sejauh ini telah berhasil merebut ladang gas penting Hayan, instalasi terbesar produksi gas di Suriah. Mereka bergerak maju ke arah Ladang Minyak Jazel, dan sudah sampai di pinggirannya.

Dalam upaya kedua untuk menyerbu kota tersebut, IS meledakkan bagian depan ampiteater serta monumen dan reliks lain di Palmyra, selain kuil penting lain yang dihancurkan dalam serbuan pertama mereka.

Menteri Kebudayaan Suriah Muhammad Ahmad baru-baru ini mengatakan pemboman warisan sejarah itu di Kota Oasis Kuno Palmyra oleh kelompok IS adalah “kejahatan Perang”.

“Semua monumen ini bukan hanya harta Suriah, tapi seluruh dunia,” kata Ahamd. Ia mendesak masyarakat internasional agar mengemban tanggung-jawab mereka dalam melindungi warisan dunia di Suriah.

Antara/Xinhua-OANA