Bandara Letung Tulang Punggung Anambas

Kepulauan Anambas

Anambas – Kepulauan Anambas bisa dikatakan salah satu wilayah terindah yang ada di bumi nusantara ini. Di sini pula tempat pertemuan arus air panas dan dingin, sehingga banyak ikan menari-nari di jernihnya air di kepulauan Anambas. Pulau – pulau kecil di wilayah terdepan Indonesia ini, membuat Anambas begitu indah. Tak hanya indah, kepulauan ini juga kaya dengan hasil lautnya.

Untuk meningkatkan potensi itu, Bandara Letung, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, akan dikembangkan demi mendukung potensi pariwisata bahari di Kepulauan Anambas.

Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas Abdul Harris dalam diskusi di Anambas, Minggu, 26/2/2017 mengatakan moda transportasi yang memungkinkan bisa mendukung pariwisata di Kepulauan Anambas adalah moda transportasi laut dan udara.

“Yang menjadi kendala untuk menyiapkan pariwisata Anambas agar maju adalah infrastruktur transportasi, karena aksesnya hanyalah udara dan laut,” ujarnya.

Di Kabupaten Kepulauan Anambas, wilayah daratan hanya menempati porsi 1,3 persen, sementara wilayah lautan mendominasi hingga 98, 7 persen.

Sementara itu, moda transportasi laut sangat rentan dengan cuaca karena apabila cuaca buruk, gelombang bisa mencapai empat sampai lima meter, sehingga kapal tidak bisa berlayar.

Padahal di salah satu Kepulauan Pulau Terempak sudah menjadi keluar masuk sandar (exit-entry point) kapal yacht.

“Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk menggunakan kapal yacht dan mengunjungi kapal yacht secara khusus karena sudah menjadi ‘exit-entry point’ dan nanti kita arahkan ke pulau-pulau lain, tapi ramainya hanya ketika musim teduh saja, kalau musim angin kencang,” katanya.

Untuk itu moda transportasi yang bisa diandalkan dalam segala cuaca serta bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Anambas adalah transportasi udara.

“Alhamdulillah Bandara Letung termasuk cepat pembangunannya selama dua tahun ini sudah terbangun dan sudah bisa didarati Susi Air,” katanya.

Apabila sudah beroperasi secara normal, Bandara Letung diyakini bisa menambah wisawatan mancanegara (wisman) dari yang saat ini 100-200 wisman per tahun menjadi 500 wisman per tahun.

Patroli Kapal TNI AL di Anambas (JKGR)

Kepulauan Anambas telah ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai 106 titik konservasi terumbu karang dengan lebih dari dua juta hemgar taman perairan.

Potensi ini harus dimanfaatkan, namun masih terkendala dengan infrastruktur, transportasi, air bersih, listrik dan komunikasi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satuan Pelaksana Bandara Letung Ariadi Widiawan mengatakan Bandara Letung sudah beroperasi pada 22 November 2016 lalu, dan rencananya siap diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada April 2017.

Namun, saat ini belum ada maskapai yang mau beroperasi secara terjadwal, baru melayani penerbangan sewa (carter).

Saat ini Bandara Letung baru bisa melayani pesawat baling-baling (propeller) sekelas ATR-42, Dormier dan Cessna Caravan dengan panjang landasan pacu 1.430 x 30 meter.

“Rencananya, akan kami kembangkan landasan pacunya, untum diperpanjang menjadi 1.650 x 30 meter pada 2018, sehingga bisa didarati ATR72,” katanya.

Pembangunan Bandara Letung dimulai pada Juli 2014 dengan dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp200 miliar, sementara itu dari sisi darat oleh APBD Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas untuk pembangunan sisi darat senilai Rp50 miliar.

Saat ini pembangunan Bandara di area seluas 163 hektar sudah mencapai 75 persen.

Berdasarkan pantauan lapangan, sebagian area sudah dipagari dan bangunan terminal serta bangunan penunjang lainnya, seperti poliklinik, ruang genset serta Petugas Keselamatan Penerbangan Pemadam Kebakaran (PK-PPK).

“Untuk penunjang keselamatan penerbangan sudah selesai, kita memang bertahap karena keterbatasan anggaran,” katanya.

Sementara itu, Supervisor Marketing Area Riau, Kepri dan Malaka XpressAir Satria Megha mengatakan berencana untuk membuka penerbangan dengan rute Tanjung Pinang-Matak-Letung.

“Tahun ini kita akan lihat, apabila memang sudah terpasang alat pengisian bahan bakar,” katanya.

Satria menambahkan dimungkinkan akan membuka rute dari langsung dari Tanjung Pinang.

“Ini kita kaji lebih lanjut lagi karena akan sangat boros sekali kalau langsung,” katanya.

Saat ini pihaknya baru melayani penerbangan dari Tanjung Pinang ke Pulau Matak dengan frekuensi dua kali seminggu.

Antara