Mengenang Pertempuran Laut Jawa dan Selat Sunda

Dok. Peringatan Pertempuran Laut Jawa di Kapal Perang AS. (U.S. Navy photo by Photographers Mate 2nd Class Edward L. Holland)

Jakarta – Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik mengatakan pameran pertempuran Laut Jawa dan Selat Sunda, ditujukan untuk memperingati pengorbanan ribuan anggota blok sekutu pada Perang Dunia II yang tewas dalam peristiwa tersebut.

Museum Kebaharian Jakarta memamerkan dua pertempuran Laut Jawa dan Selat Sunda yang merupakan pertempuran laut terbesar pada masa Perang Dunia II selama satu tahun.

Pertempuran terbesar pada masa Perang Dunia II itu, menewaskan 2.200 lebih warga dari Inggris, Belanda, AS dan Australia, termasuk 200 warga Indonesia yang ada di kapal-kapal Belanda, ujar Moazzam Malik usai pembukaan pameran di Jakarta, Senin malam (27/2/2017).

“Jadi melalui pameran ini kami berusaha untuk memperingati pengorbanan mereka dan merayakan sejarah bersama antara Inggris dan negara sahabat,” kata dia.

Pertempuran yang terjadi pada 27 Februari-1 Maret 1942 itu merupakan hal penting dalam sejarah beberapa negara.

Pameran yang akan digelar sepanjang tahun ini, merupakan salah satu bentuk kerja sama maritim guna memperingati 75 tahun pertempuran penting dalam Perang Dunia II.

“Ini menjadi pertempuran yang terkenal di dunia. Banyak tentara Inggris, AS, Belanda, Australia dan Jepang serta Indonesia yang hilang,” tutur Dubes Moazzam.

Informasi mengenai pertempuran, kapal yang digunakan, tokoh penting serta sejumlah artefak yang digunakan angkatan laut selama Perang Dunia II dapat dilihat dalam pameran itu.

Selain itu, pengorbanan orang Indonesia yang tewas sebagai awak kapal di kapal-kapal perang Belanda turut disoroti.

Pihaknya berharap pameran itu dapat menarik wisatawan asing yang memiliki ketertarikan sejarah maritim dan memberikan sebuah perspektif baru untuk warga Indonesia tentang sejarah penting.

Lokasi Pertempuran, Makam yang Dihormati

Duta Besar Inggris untuk Indonesia mengatakan lokasi pertempuran laut terbesar pada Perang Dunia II di Laut Jawa dan Selat Sunda merupakan “makam” yang dihormati oleh keluarga para korban yang tewas.

Inggris, Belanda, AS dan Australia yang terlibat dalam pertempuran itu, berharap kapal yang tenggelam dibiarkan dan tidak dihancurkan.

“Untuk keluarga besar tentara yang menjadi korban, mereka melihat kapal tenggelam sebagai ‘makam’. Jadi tempat yang dihormati. Tidak mau dihancurkan atau diganggu,” tutur dia.

Pemimpin blok sekutu untuk menghadang pasukan invasi Jepang, Laksamana Doorman juga tewas dalam pertempuran itu.

Jepang memenangkan pertempuran itu setelah 11 kapal sekutu tenggelam dan hanya menyisakan empat kapal penghancur tipe Clemson milik AS.

“Menjadi harapan besar bagi kami, khususnya Inggris, Belanda, AS, semua kapal tenggelam dibiarkan tertinggal di sana karena ini menjadi ‘makam’ untuk tentara angkatan laut yang menjadi korban,” tutur Dubes Moazzam.

Selain memperingati pertempuran, pihaknya juga berharap Inggris dan Indonesia bisa memperdalam kerja sama di bidang maritim, khususnya bidang regulasi dan pembangunan alat maritim dan kapal.

Kerja sama itu diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas Indonesia untuk memiliki peran penting dalam dunia kemaritiman.

Antara

Sharing

Tinggalkan komentar