Rudal Darat Terbaru “US Army” Punya Jangkauan 300 Mil

Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) sedang mengembangkan senjata Long Range Precision Fires (LRPF) untuk mendukung misi Angkatan Darat dan Marinir untuk menghancurkan bunker lawan, landasan helikopter, barak pasukan, dan target dengan lokasi tetap, menurut laporan Scout Warrior.

Rudal (Peluru Kendali) Long Range Precision Fires (LRPF) ditembakkan melalui peluncur bergerak (mobile launcher). (© Raytheon)

Angkatan Bersenjata berencana untuk menyediakan artileri tersebut pada tahun 2027, dan senjata tersebut akan meningkatkan jangkauan hingga tiga kali lipat dari persenjataan yang ada saat ini menjadi 300 mil (lebih dari 480 kilometer), menurut pejabat militer kepada Scout Warrior.

Selain untuk melengkapi infanteri dan unit dukungan udara-ke-permukaan dengan kemampuan “serangan, menetralisir, menekan, dan menghancurkan” lawan, LRPF juga memberikan unit artileri medan dengan kemampuan serangan jarak jauh di sepanjang jalur operasi militer, kata juru bicara “US Army”, Dan O’Boyle.

Angkatan Bersenjata AS telah menunjuk para kontraktor pertahanan terbesar AS, yaitu Raytheon dan Lockheed Martin, untuk membantu dalam pengembangan senjata tersebut.

Pada bulan Agustus, Raytheon telah penerima kontrak “mitigasi risiko”senilai US $ 5,7 juta untuk merancang sistem dasar LRPF, menurut siaran pers Raytheon.

“Pembuat rudal terbesar di dunia” mengatakan bahwa senjata baru tersebut akan “memungkinkan Angkatan Darat untuk melipatgandakan daya tembak rudal jarak jauh dari peluncur bergerak (mobile)”.

Kontrak tersebut menetapkan waktu sembilan bulan, selanjutnya Angkatan Darat akan meminta proposal untuk pengembangan lebih lanjut, menurut Raytheon.

Menurut Defense News, “Rusia dan China juga telah berinvestasi dalam pengembangan roket jarak jauh dan rudal permukaan-ke-permukaan dengan jangkauan yang lebih jauh serta daya hancur lebih besar dari artileri yang dimiliki oleh Amerika Serikat saat ini”.

“Dalam situasi di mana dukungan udara tidak dapat digunakan, misalnya karena adanya penetapan Anti-Access/Area Denial menggunakan sistem rudal, maka rudal LRFP merupakan satu-satunya dukungan serangan yang mungkin dilakukan oleh Angkatan Bersenjata”, kata Letjend HR McMaster kepada Kongres pada tahun 2016 lalu.

“Meskipun sistem elektronik dan dukungan udara tersedia, kadang-kadang kondisi tempur dapat memaksa kita untuk meminta bantuan serangan tersebut”, McMaster menambahkan.

“Senjata LRPF akan menggantikan kemampuan ATACMS, yang juga dipengaruhi oleh usia stok ATACMS dan kebijakan amunisi cluster yang memaksa menghapus persediaan ATACMS M39 dan M39 A1 dari gudang setelah tahun 2018”, menurut keterangan US Army.

Angkatan Bersenjata AS saat ini tidak berencana untuk menjual sistem rudal terbaru ini ke pengguna asing.

Sputnik News, Defense News, Scout Warrior