Satelit Militer Indonesia Ditargetkan Meluncur 2019

Jaringan komunikasi satelit militer (photo : Raytheon.com)

Bogor – Rencana pembelian satelit untuk keperluan militer Indonesia terus diupayakan dan pembahasannya terus dilakukan Kementerian Pertahanan dengan Kementerian Keuangan, ungkap Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com, 28/2/2017.

“Sekretaris Jendral kita sedang ke Kemenkeu, untuk mengurus itu. Tidak ada masalah, tinggal uangnya,” ujar Ryamizard Ryacudu di Pusdiklat Bela Negara, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pembelian satelit sekaligus peluncurannya akan menelan biaya Rp 8 – 10 triliun. Namun angka itu jauh lebih murah jika harus menyewa satelit sejenis, dengan biaya Rp 1 triliun/tahun. Umur satelit di angkasa bisa mencapai 17 tahun. Jika pemerintah menyewa satelit seharga Rp 1 triliun selama 17 tahun, harga sewa jauh lebih mahal. Menurut Ryamizard pihak Kementerian Pertahanan telah melakukan perundingan dengan Airbus, yang berbasis di Perancis.

Persetujuan DPR RI

Komisi I DPR RI telah menyetujui anggaran yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI untuk membeli satelit komunikasi militer dari Airbus Defence and Space, pada bulan Juli 2016 lalu.

Besarnya program pengadaan satelit mencapai 849,3 juta dolar AS, atau sekitar Rp 11 triliun dan pembiayaannya, akan berlangsung dalam skema tahun jamak selama lima tahun.

Saat itu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menjelaskan bahwa satelit komunikasi militer Indonesia yang rencananya diluncurkan tahun 2019 bersifat rahasia.

Jika telah beroperasi, semua komunikasi TNI akan dilakukan menggunakan satelit militer dengan memakai frekuensi L-Band. Spesifikasi dan karakteristik satelit akan dikembangkan dan disesuaikan dengan keperluan operator dan institusi Indonesia.

Tribunnews.com dan Antara