Anggota Navy SEAL Tewas di Yaman, Misi yang Sukses atau Gagal?

ilustrasi

Untuk pertama kalinya dalam perang di Yaman, seorang anggota pasukan khusus Navy SEAL tewas dalam pertempuran sengit melawan militan Al Qaida in the Arabian Peninsula (AQAP).

Selain itu tiga pasukan khusus AS lainnya terluka dalam serangan itu. Dua personel militer AS lainnya terluka akibat ‘hard landing’ MV-22 Osprey, yang kemudian akibat tidak bisa diterbangkan kembali, Osprey terpaksa dihancurkan oleh pesawat tempur AV-8B Harrier.

Pentagon menyatakan lebih dari 20 serangan udara diuncurkan pada dini hari, menggunakan campuran dari pesawat berawak dan tak berawak. Serangan menyasar infrastruktur, sistem senjata berat dan posisi para militan AQAP di provinsi Abyan, Al Bayda dan Shabwah di Yaman .

Di provinsi Al Bayda inilah anggota Tim Navy SEAL 6 yang bernama Owens tewas, yang oleh US Central Command digambarkan sebagai “tembak-menembak sengit” saat melakukan serangan di markas AQAP. Serangan AS itu secara pribadi sudah disahkan oleh Presiden Donald Trump dan merupakan korban pertempuran pertama di masa jabatannya.

Serangan udara pada 29 Januari di daerah yang dikuasai AQAP menandai aksi tempur pertama AS dalam perang sipil yang terjadi di Yaman.

Meski pihak Gedung Putih dan Pentagon mengklaim serangan itu sebagai misi yang sukses, namun beberapa pihak dan orang tua Owens menyebutnya sebagai misi yang gagal, karena selain hanya berhasil menetralisir 16 anggota AQAP ‘yang berpangkat rendah’ juga menewaskan seorang anggota Navy SEAL dan 14 warga sipil tidak bersalah.

Military.com / DailyWire
Editor : Muhidin

Sharing

Tinggalkan komentar