Bulan Madu Trump – Putin Terancam Berakhir

Presiden Rusia, Vladimir Putin (istimewa)

Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini tidak lagi mengeluarkan puja-puji kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, di tengah skandal investigasi keterlibatan Kremlin dalam pemilihan umum tahun lalu.

Sejumlah pejabat yang mengurus politik luar negeri dalam pemerintahan Trump kini mulai bersuara keras pada Rusia.

Semuanya dimulai pada bulan lalu saat pejabat setara menteri koordinator politik dan keamanan, Michael Flynn -yang merupakan penyeru hubungan yang lebih bersahabat dengan Rusia- mengundurkan diri.

Flynn digantikan oleh Letnan Jenderal H.R. McMaster yang berpandangan keras soal Rusia.

Ada pula indikasi lain berakhirnya bulan madu Trump dengan Putin. Dua sumber di Gedung Putih menyatakan bahwa pihaknya telah menawarkan satu kursi di Dewan Keamanan Nasional kepada akademisi yang dikenal kritis terhadap Rusia, Fiona Hill. Hingga kini masih belum diketahui apakah Hill akan menerima tawaran tersebut.

Tekanan kepada pemerintahan Trump agar bersikap lebih keras pada Putin juga muncul dari sesama Partai Republik di Kongres, dan juga negara-negara Eropa yang khawatir akan agresi Rusia di Ukraina dan aneksasi negara tersebut terhadap Krimea.

Kini pemerintahan Amerika Serikat sedang sibuk membantah bukti-bukti baru yang mengindikasikan bahwa Jaksa Agung Jeff Sessions, menantu sang presiden Jared Kusher, dan pejabat lainnya telah berkomunikasi dengan pihak Rusia menjelang pemilihan umum presiden tahun lalu.

Akibatnya, sejumlah pihak mendesak agar perluasan investigasi dugaan bahwa Moskow telah campur tangan dalam pemilihan umum di Amerika Serikat.

“Ada kepanikan besar di kalangan elit Amerika Serikat terkait Rusia. Trump kini semakin terpojok,” kata Matthew Rojansky, pakar Rusia di lembaga Wilson Center, Washington.

Gedung Putih sendiri membantah pihaknya telah melakukan hubungan yang melanggar hukum dengan Rusia.

Trump sampai saat ini masih belum memaparkan kebijakan umum terhadap Rusia. Hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terkahir terus memanas akibat perbedaan sikap terkait Suriah dan Ukraina.

Pada bulan lalu, Menteri Pertahanan Jim Mattis terbang ke Eropa untuk meyakinkan negara-negara anggota pakta pertahanan NATO akan komitmen Amerika Serikat. Dia juga menegaskan pihaknya tidak berencana membangun hubungan militer dengan Rusia.

Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, pada pekan lalu mengecam Rusia karena menggunakan hak veto di Dewan Keamanan untuk melindungi pemerintahan Suriah terkait tudingan penggunaan senjata kimia.

Situasi-situasi di atas nampak kontras dengan pernyataan Trump selama kampanye, di mana dia ingin membuka hubungan baik dengan Rusia terutama dalam memerangi terorisme. Dia bahkan berulangkali memuji Putin melalui cuitan di akun media sosial Twitter.

Namun sikap Trump kini nampak berubah.

“Mungkin saya tidak akan bisa bersahabat dengan Putin,” kata Trump dalam konferensi pers pertengahan Februari lalu.

Antara/Reuters