Auditor Australia: Janji Kerja F-35 “Tak Terwujud”

PARIS – Program Joint Strike Fighter F-35 gagal memberikan manfaat kepada industri Australia, tidak seperti yang pemerintah ucapkan, kata Kantor Audit Nasional Australia (KANA) dalam laporan terbaru tentang Program Pertahanan Utama.

Laporan KANA tanggal 28 Februari juga mengungkapkan bahwa, pada bulan Juni 2016, biaya akuisisi 72 unit F-35A yang direncanakan oleh Australia telah meningkat lebih dari 30%, menjadi AU $ 16,7 milyar, karena adanya apresiasi dolar AS atas dolar Australia.

Sehingga Australia harus membayar sebesar AU $ 232.000.000 (sekitar US $ 176,5 juta) untuk masing-masing F-35, sebuah angka yang jauh diatas harga terbaru yaitu US $ 85 juta per unit sebagaimana diklaim oleh Program Kantor Bersama F-35.

Laporan KANA juga mengungkapkan 2 (dua) masalah baru yang akan membatasi kemampuan operasional F-35 Lightning II ketika memasuki layanan bersama Angkatan Udara Australia (RAAF):

  • “Proyek tidak dapat memberikan [rudal] Serang Maritim yang di syaratkan di awal persetujuan proyek…. karena perubahan ruang lingkup kesepakatan Blok 4.1 dan Blok 4.2, yang disetujui oleh Dewan Pengarah Eksekutif JSF.

Sebuah rudal alternatif telah diidentifikasi dan “dinilai mampu memenuhi kebutuhan” serta “persetujuan untuk mendapatkan kemampuan alternatif tersebut saat ini sedang dikelola melalui Persetujuan Pertahanan Pemerintah”.

  • “Departemen Pertahanan mengakui masih adanya risiko pada software Block 3F karena adanya integrasi dan fusi yang kompleks. Meskipun beresiko, JPO meramalkan rilis perangkat lunak Blok 3F akan berlangsung pada akhir 2017 bertepatan dengan jadwal penyelesaian SDD”.

Temuan ini jelas membantah klaim yang dikeluarkan oleh Menteri Industri Pertahanan Australia bahwa program ini berjalan dengan baik. KANA juga memperingatkan bahwa “Membangun infrastruktur ICT yang dibutuhkan untuk mendukung kemampuan JSF F-35” adalah sangat beresiko, dan bahwa “Sistem Pelatihan Australia mungkin tidak bisa dimunculkan pada waktunya dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk mendukung pelatihan personil Angkatan Udara Australia, dengan konsekuensi akan mempengaruhi kemampuan deklarasi RAAF“.

Kontrak Tidak Seperti Yang Telah di Janjikan

Australia tidak sendirian mendapatkan perlakuan seperti ini, karena kurangnya pekerjaan F-35 yang dijanjikan oleh Lockheed Martin, Italia juga mengeluhkan kekurangan tersebut, tetapi Menteri Industri Pertahanan Australia terus memuji keuntungan finansial dan industri yang mengalir ke Australia padahal sebenarnya “tidak ada” menurut KANA.

Dalam sebuah pernyataan pada 28 Februari misalnya, Menteri Industri Pertahanan Christopher Pyne mengatakan bahwa “program F-35 memberikan manfaat untuk ekonomi lokal, pekerjaan dan keterampilan… dan harus dirayakan”, menambahkan bahwa “Sejauh ini, kita telah sangat sukses dalam mengerjakan produksi F-35, dengan kontrak produksi lebih dari AU $ 800 juta hingga saat ini”.

KANA menemukan bahwa apa yang terjadi adalah sebaliknya, “Diharapkan manfaat ekonomi (kembali dalam bentuk investasi, pangsa pasar regional) dengan partisipasi Industri Australia pada Program JSF global ternyata tak terwujud”.

Baik kantor Menteri Industri Pertahanan maupun kantor Menteri Pertahanan Australia tidak pernah menanggapi permintaan klarifikasi melalui email oleh media pada 28 Februari 2017.

Status Keuangan

KANA juga memberikan beberapa informasi menarik tentang kontribusi keuangan Australia pada program JSF F-35.

Pada bulan Juni 2016 misalnya, Australia baru membayar sebesar AU $ 933,2 juta dari yang seharusnya sebesar AU $ 16,7 milyar yang telah dianggarkan untuk program akuisisi tersebut, dan selanjutnya hanya sebesar AU $ 246 juta untuk anggaran tahun 2015 – 2016.

Dalam hal jadwal, Australia akan menerima 14 unit F-35 pertama pada bulan Juni 2019 (terlambat 30 bulan), tapi KANA mencatat bahwa Departemen Pertahanan yakin bisa mengejar dan memiliki seluruh 72 unit pesawat yang disampaikan kepada Angkatan Udara pada bulan September 2023, atau 3 bulan awal.

Risiko Utama dan Identifikasi Isu oleh KANA

JSF adalah program besar dan kompleks serta masih banyak menyisakan permasalahan. Sementara sebagai MoU Partner, Australia memang memiliki peran, akan tetapi mengatasi tantangan teknis utama merupakan tanggung jawab AS.

Risiko utama yang dihadapi Proyek NACC adalah:

  • Kemungkinan Pemerintah AS dan Partner JSF mengubah komitmen pada Program JSF yang lebih luas yang berdampak pada akuisisi dan biaya siklus hidup F-35 Australia.
  • Integrasi JSF ke dalam sistem Angkatan Bersenjata Australia (ADF).
  • Membangun fasilitas Informasi, Komunikasi serta Teknologi (ICT) yang dibutuhkan untuk mendukung tegaknya kemampuan JSF.
  • Kurangnya data tepat waktu dan kemampuan memberikan informasi program JSF yang dampak pada integrasi tepat waktu, efisiensi dan efektifitas sistem dari pesawat F-35 kepada ADF.
  • Kematangan Sistem JSF dan kemampuan untuk memenuhi IOC dan FOC.
  • Transisi dari JSF ke layanan pada saat yang sama RAAF meningkatkan kemampuan Super Hornet dan Growler Australia.
  • Membentuk dan memperkuat sistem pemelihara kelestarian JSF.
  • Menetapkan elemen Pemrograman Ulang.
  • Memastikan hasil industri yang diperlukan dalam produksi JSF dan transisi kepada layanan.
  • Tantangan tenaga kerja yang efektif dan secara signifikan mengelola kegiatan organisasi program akuisisi dan pemeliharaan kelestarian yang berdampak pada Pertahanan dalam membangun kemampuan JSF.

Defense Aerospace