Jepang Pertimbangkan Opsi “First Strike” Terhadap Korea Utara

Dalam kebangkitan ujicoba rudal balistik antarbenua oleh Republik Demokrat Rakyat Korea (Korea Utara), legislator di Jepang menyerukan kepada negaranya untuk mengadopsi postur militer baru terhadap tetangga berkemampuan nuklir terdekat.

Destroyer JS Atago (kiri) alias DDG-177 Angkatan Laut Jepang dan USNS Pecos (kanan).

Jepang telah lama menyatakan bahwa kebijakan militernya telah berevolusi dari sikap membela diri. Sejak 1951, keamanannya Jepang sebagian besar telah dijamin oleh AS, yang beroperasi melalui pangkalan disekitar Pasifik, sebelah utara Australia, dan Okinawa, sebuah prefektur Jepang.

“Jika pesawat pembom menyerang kami atau kapal perang membombardir kami, kami akan membalas”, kata mantan menteri pertahanan Itsunori Onodera dalam pertemuan dengan komite Jepang yang membahas metode pertahanan terhadap rudal dari Korea Utara. “Menyerang negara yang menembakkan rudal kepada kami tidak ada bedanya”.

Salah satu jalur hidup utama Pyongyang dan satu-satunya sekutu di antara negara-negara besar, yaitu China, menyerukan kepada Korea Utara untuk menghentikan pengujian rudal untuk “meredakan meningkatnya krisis”, menurut Menlu China, Wang Yi.

Wang Yi juga merekomendasikan bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat harus mengakhiri latihan militer bersama. Amerika Serikat baru-baru ini mengerahkan sistem pertahanan rudal kontroversial, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), di wulayah Seongju, Korea Selatan.

“China memiliki rudal yang dapat menghantam Jepang, sehingga keluhan itu mungkin tidak akan menarik banyak simpati dari masyarakat internasional”, kata mantan menteri pertahanan Jepang.

Mengenai perubahan posisi dari ‘membela diri’ dan mempertimbangkan untuk penerapan kebijakan ‘first strike’ (serangan pertama), Onodera mengatakan, “Teknologi telah maju dan sifat konflik telah berubah”.

Anggota Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang, senada dengan Onodera. “Sudah saatnya kita memperoleh kemampuan”, kata Hiroshi Imazu, ketua dewan keamanan partai LDP.

“Tanpa suatu penangkal (deterrence), Korea Utara akan melihat kita sebagai negara yang lemah”, katanya. Beberapa pilihan termasuk penggelaran F-35 Jepang, jet tempur generasi kelima buatan AS. Jepang telah memesan sebanyak 28 unit Joint Strike Fighter, namun pengiriman F-35 tersebut mungkin agak sedikit terlambat.

Imazu tidak secara pasti menyebutkan apakah kekuatan pencegah yang dimiliki Jepang akan berupa rudal balistik, rudal jelajah, ataukah jet tempur siluman F-35. Sebagai perbandingan, Marinir AS telah mengerahkan hampir selusin F-35B ke pangkalan militer AS yang ada di Jepang, sekitar 40 km sebelah barat daya Hiroshima.

Tumbuhnya ancaman Korea Utara telah menyebabkan para pemimpin di Tokyo merenungkan kembali opsi pertahanan, bahkan jika diskusi tersebut tidak diumumkan. “Kami sudah melakukan pekerjaan dasar tentang bagaimana kita bisa memperoleh kemampuan serangan”, kata seorang pejabat yang tak ingin disebut namanya, yang akrab dengan perencanaan pertahanan Jepang kepada Reuters.

Sputnik News