Ini Dia Penantang-Penantang Rudal Petir Buatan Indonesia

Tim uji coba rudal Petir

Berdasarkan polling JakartaGreater tentang alutsista strategis mana yang harus dikuasai/dimiliki Indonesia terlebih dahulu, mayoritas responden memilih peluru kendali/rudal. Perlu ditandai bahwa peluru kendali dalam bahasa Indonesia bukanlah “Guided Munition”, tetapi “Missile”. Teknologi ini krusial untuk dikuasai oleh Indonesia, mengingat pertempuran sekarang sudah menggunakan rudal jarak jauh untuk menghancurkan musuhnya terlebih dahulu sebelum kekuatan militer sesungguhnya datang ke medan perang. Sebagai contoh, pada invasi AS ke Iraq, radar, pangkalan militer, pusat komunikasi, dan lanud Iraq sudah hancur terlebih dahulu dihantam rudal Tomahawk. Hal ini sangat melemahkan kekuatan militer Iraq, dan menyebabkan kekalahannya dalam waktu kurang lebih hanya 1 bulan.

Indonesia, sebagai negara yang dikepung oleh kekuatan yang tidak menginginkan negara ini menjadi maju, sudah sepatutnya menguasai teknologi rudal. Di dalam negeri, perusahaan PT. Sari Bahari sudah meriset untuk memproduksi rudal. Rudal ini dinamakan Petir V-101. Rudal ini dikategorikan sebagai rudal jelajah ringan dengan jarak jangkau 45 km, hulu ledak 10 kg dan ketinggian terbang 20 m. Namun, pada November 2016 lalu muncul berita bahwa proyek Petir diubah menjadi target drone/UAV berkecepatan 500 km/jam. Entah benar atau tidak, berita ini membuat kaget military fans Indonesia. Bagaimana tidak, proyek strategis ini malah diubah menjadi proyek yang kurang strategis.
Terlepas dari benar tidaknya, sebenarnya di pasaran sudah ada beberapa rudal yang “sekelas” dengan Petir. Berikut adalah rudal-rudal tersebut.

1. EdePro ALAS (Advanced Light Attack System)
ALAS merupakan rudal buatan Serbia, digunakan untuk menyerang tank, kendaraan tempur, benteng, markas komando, helikopter, kapal pantai, fasilitas industri and jembatan. ALAS bisa ditembakkan dari helikopter, kendaraan, kapal kecil and infanteri. Sistem pemandu menggunakan video/infra red, dan dikontrol dari peluncur menggunakan kabel fiber optik. ALAS juga bisa digunakan sebagai UAV.

Berikut spesifikasinya :

Kecepatan : 640-740 km/jam
Jarak : 25 km (ALAS-A), 60 km (ALAS-B), 25-50 km (ALAS-C anti ship), 9 km (LORANA)
Ketinggian terbang : 150-500 m
Hulu ledak : 10 kg
Diameter : 17,5 cm
Rentang sayap : 1,45 m
Panjang : 2,3 m (ALAS), 1,8 m (LORANA)
Berat : 60 kg
Mesin : Solid fueled boost phase motor, EdePro TMM-404 “Mongoose” single-shaft turbojet berkekuatan 400 N(ALAS), mesin roket (LORANA)

2.FOG-MPM (Fiber Optics Guided Multi Purpose Missile)

FOG-MPM adalah rudal buatan Avibras, perusahaan yang sama yang membuat MLRS Astros. Rudal ini digunakan sebagai rudal anti pertahanan, anti tank, dan anti helikopter. Dapat diluncurkan dari helikopter, kapal, dan kendaraan darat. Sistem kendali menggunakan kabel fiber optik.

Berikut spesifikasinya :
Kecepatan : 540-720 km/jam
Jarak : 10-20 km, 60 km (tahun 2000 ke atas)
Ketinggian terbang : Hulu ledak : Tidak diketahui, diklaim bisa menembus baja setebal 1 m
Diameter : 18 cm
Panjang : 1,5 m
Berat : 33 kg

Type 96 diluncurkan dari Humvee Jepang

3. Type 96 MPM
Rudal Type 96 ini adalah rudal penghancur tank dan kapal pendarat buatan Jepang. Sistem kendali menggunakan kabel fiber optik sedangkan sistem pemandu menggunakan Infrared.

Spesifikasi :
Jarak : 10-25 km
Hulu ledak : Tidak diketahui
Diameter : 16 cm
Panjang : 2 m
Berat : 60 kg
Mesin : Solid fuel rocket

Spike NLOS diluncurkan dari kendaraan Plasan Sandcat

4. Spike NLOS (Non Line Of Sight)
Spike NLOS adalah salah satu dari keluarga rudal Spike buatan Israel. Rudal ini mempunyai jarak lebih jauh daripada varian Spike lainnya. Digunakkan sebagai rudal darat ke darat berpresisi tinggi, tapi juga bisa menembak jatuh helikopter atau UAV yang terbang rendah. Seperti rudal-rudal sebelumnya, sistem pemandu menggunakan Infrared, dengan kontrol ke penembak menggunakan kabel fiber optik. Rafael perusahaan Israel juga mengembangkan versi pemandu Semi Active Laser Homing (SALH).

Berikut spesifikasinya :
Jarak : 25 km
Hulu ledak : HEAT dengan konfigurasi tandem
Diameter : 17 cm
Panjang : Tidak diketahui
Berat : 70 kg
Mesin : Solid fuel rocket

Teknologi misil/rudal memang sepatutnya perlu dikuasai Indonesia. Meskipun merupakan ide yang bagus menggunakan Petir sebagai target drone, ada baiknya program Petir versi rudal tetap dilanjutkan. Program ini bisa membuka riset bagi pengembangan rudal Indonesia lainnya. Seperti yang kita tahu TOT rudal anti kapal C-705 sudah gagal, akan tetapi perkembangan rudal Indonesia harus terus berlanjut, dimulai dengan rudal jelajah kecil ini. Berikut spesifikasi Petir V-101 :

Kecepatan : 260 km/jam (versi tes), sekitar 500 km/jam (versi produksi)
Jarak : 45 km (versi tes), 60 km (versi produksi)
Ketinggian terbang : 20 m
Hulu ledak : 10 kg
Diameter : Tidak diketahui
Rentang sayap : 1,55 m (versi tes)
Panjang : 1,85 m (versi tes)
Berat : 30 kg (versi tes)
Mesin : Turbojet 147 N, rencananya akan menggunakan turbojet buatan Indonesia sendiri
Sistem kendali : 3D waypoint autopilot, GPS navigation

Menurut Ricky Hendrik Egam, direktur perusahan PT. Sari Bahari, jika sudah jadi rudal nanti sayap Petir yang mirip pesawat F-18 akan dihilangkan, diubah menjadi sayap seperti sayap rudal lainnya. Untuk mesin, menggunakan turbojet yang tidak diketahui asalnya dan berapa daya dorongnya, namun kedepannya mungkin bisa menggunakan turbojet berdaya dorong 500 N buatan ITB ini :

Ditulis oleh : AutoVeron

Tinggalkan komentar