Waduh, Hubungan Malaysia-Korea Utara Memanas

Militer Korea Utara (Uwe Brodrecht)

Kuala Lumpur – Pembicaraan mengenai pembebasan sembilan warga Malaysia yang terdampar di Korea Utara akibat larangan perjalanan, sedang berlangsung pada Senin, 13/3/2017, ujar sumber-sumber.

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein berusaha meredakan kecemasan di kalangan masyarakat mengenai risiko kemarahan negara bersenjata nuklir itu yang tak dapat diprediksi.

Hubungan dua negara yang sebelumnya bersahabat, memburuk di tengah investigasi atas kematian Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di Kuala Lumpur bulan lalu.

Korea Utara marah atas tindakan kepolisian Malaysia mengidentifikasi para tersangka dari Korea Utara dan menanyakan orang-orang lain, termasuk seorang diplomat di kedutaannya di Kuala Lumpur. Pyongyang mengeluarkan larangan perjalanan atas sejumlah warga Malaysia untuk meninggalkan perbatasannya. Aksi tersebut merupakan balasan atas apa yang dilakukan oleh Malaysia.

Malaysia juga mengusir duta besar Korea Utara, tetapi dalam usaha menenangkan hubungan Perdana Menteri Najib Razak mengatakan pekan lalu bahwa hubungan dengan Pyongyang tidak akan diputus dan pembicaraan dua pemerintahan sedang berlangsung untuk menyelesaikan isu-isu mereka.

Bagi Malaysia, prioritas utama ialah menjamin pembebasan tiga diplomat dan enam anggota keluarga mereka untuk pulang. Mereka masih berada di Pyongyang saat ini.

“Negosiasi dengan pihak Korea Utara sedang berlangsung,” kata Deputi PM Ahmad Zahid Hamidi kepada wartawan.

“Prioritas utama kami ialah keselamatan sembilan warga Malaysia yang berada di Pyongyang,” katanya.

Kepolisian Malaysia menyatakan zat syaraf VX, yang berdasarkan PBB sebagai bahan kimia mematikan dan masuk ketegori senjata pemusnah massal, digunakan untuk membunuh Kim Jong Nam yang telah tinggal di pengasingan di Makau dan telah mengeritik dinasti keluarganya yang memerintah Korea Utara.

Selain seorang wanita Indonesia dan Vietnam yang dituduh terlibat dalam pembunuhan itu, kepolisian juga mengidentifikasi delapan warga Korea Utara yang mereka cari untuk dimintai keterangan. Tiga orang dikatakan bersembunyi di kedutaan Korea Utara di Kuala Lumpur.

Unggahan di media sosial dalam beberapa hari belakangan telah mencerminkan kecemasan atas risiko bahwa Korea Utara dapat membalas secara kasar jika Malaysia terus mendalami kasus tersebut.

Menhan Hishamuddin yang berusaha meredakan kecemasan itu memberi komentar kepada wartawan di parlemen pada Senin, dengan berkata,”Bahkan jika hubungan kami agak tegang, saya kira hal ini tak akan mengarah kepada perang.” Menurut dia, Malaysia belum setara dengan Korea Utara dari sisi militer tetapi bisa memperoleh dukungan dari para sekutunya jika terjadi konfrontasi sementara negara-negara adi daya memiliki masalah sendiri dengan Korea Utara.

“Ini keuntungan kota, jadi jangan khawatir,” kata dia. “Kami harus melihat isu kami dengan Korea Utara dalam perspektif yang tepat.” Sementara itu, tak seeorang pun dari keluarga korban muncul untuk mengklaim jasad tersebut, yang Korea Utara inginkan untuk diserahkan ke Pyongyang.

Antara