Empat Hal Ini Jadikan Su-30SM Layak Diakuisisi Indonesia Daripada Su-35

Salah satu varian pesawat tempur Flanker Su-30SM yang dilengkapi dengan sayap canard, telah banyak menarik minat negara-negara seperti India, Malaysia dan Aljazair. Selain itu, Su-30SM juga menjadi salah satu tulang punggung kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut Rusia.

Tahun 2016 pabrikan Irkutsk telah menghasilkan total 29 unit Su-30 yang dilengkapi dengan sayap canard, 21 unit Su-30SM untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut Rusia, 2 unit untuk Kazakhstan dan 8 unit Su-30MKA untuk Aljazair.

Banyak ahli militer percaya, dalam waktu dekat Su-30 canard akan menjadi salah satu pesawat tempur laris yang banyak menarik minat negara-negara lain. Lalu apa yang membuat Su-30 “canard” lebih menarik untuk diakusisi dibandingkan Flanker lainnya?

Pertama, keunggulan aerodinamis dan manuvernya. Berkat mesin ganda dengan nozzle yang dapat berubah dua arah (2D), menjadikan Su-30SM memiliki kemampuan manuver luar biasa dan tidak ada yang mampu menandingi kelincahannya, kecuali Su-35.

Kedua, sistem radar dan avionik canggihnya yang memungkinkannya membawa senjata modern buatan Rusia. Tergantung pada kebutuhan pelanggan, Su-30SM dapat mengintegrasikan sistem elektronik dan persenjataan paling canggih (termasuk dari Barat)

Dilengkapi radar mini Awacs N-011M Bars Hibrid Radar System, atau bahkan N-035 Irbis-E seperti yang dimiliki Su-35, yang memiliki kapasitas lebih dari dua kali lipat dengan kemampuan deteksi target dengan RCS 3m2 pada jarak 400 km.

Ketiga, harga yang ringan. Jika dibandingkan dengan Su-35, Su-30SM hanya sedikit lebih rendah fiturnya, terutama pada manuver. Sedangkan secara keseluruhan seperti pada sistem amunisi dan persenjataan, jika pelanggan meminta, perusahaan Sukhoi dapat mengintegrasikannya. Dan yang lebih penting harganya kurang dari US$ 60 juta, lebih murah dari Su-35 yang di banderol harga US$ 85 juta/unit seperti pada Su-35 China.

Keempat, menggunakan dua kursi yang sangat membantu dan meringankan tugas pilot. Satu pilot dapat fokus pada pesawat tempurnya dan pilot lainnya akan mengontrol sistem persenjataan, dengan demikian waktu respon menjadi lebih cepat dan lebih akurat daripada menggunakan satu pilot.

Author : Muhidin