Korea Utara Akan Tenggelamkan “USS Carl Vinson” Jika AS Langgar Kedaulatan

Setelah AS dan Korea Selatan memulai latihan militer tahunan mereka, Korea Utara kembali mengecam setelah mengetahui bahwa USS Carl Vinson, kapal induk bertenaga nuklir, direncanakan untuk ambil bagian.

Kapal induk USS Carl Vinson, Angkatan Laut AS. (Foxtrot Alpha)

“Para maniak perang” bertindak “gegabah” dalam melaksanakan latihan militer komputerisasi dan dilapangan, menurut laporan KCNA seperti dilansir Sputnik. Dalam latihan militer selatan, bila “melanggar” kedaulatan Korea Utara, maka akan melepaskan serangan presisi tinggi “tanpa ampun” pada aset strategis dan militer AS, menurut surat kabar militer Stripes Korea.

Latihan militer bersama bersandi “Foal Eagle” baru-baru ini mengikutsertakan USS Carl Vinson dari kelas Nimitz, formasi kapal induk super yang merupakan Kapal Induk Grup Serang 1.

Sebuar real estate terapung AS seluas 1,8 hektar dapat membawa hingga 6.000 awak kapal dan 90 unit pesawat. Dikawal oleh perusak USS Wayne E Meyer, Kapal Induk Grup Serang 1 siap untuk menurunkan jangkar di pelabuhan Busan selatan, menurut Stripes pada hari Rabu.

Angkatan Bersenjata Korea Utara menembakkan sejumlah MLRS. (© KCNA)

Latihan perang tahunan “tepat di depan mata” tersebut, mendorong pemimpin Korea Utara untuk mengembangkan kemampuan serangan nuklir preemptive, menurut Kim In Ryong, Duta Besar Korea Utara untuk PBB.

Jepang juga turut berpartisipasi dalam simulasi perang tersebut, yang menuduh Pyongyang bersiap melakukan invasi, menurut pernyataan dari Angkatan Laut AS. Latihan secara ketat selama dua hari dengan Jepang dalam postur defensif, dalam upaya latihan bersama informasi peringatan rudal trilateral, menurut Angkatan Laut AS.

Anggota parlemen di Jepang telah mempertimbangkan untuk mengadopsi kebijakan “serangan pertama” terhadap Korea Utara, menurut laporan Sputnik. Pada hari Selasa, kementerian luar negeri China keberatan pada latihan perang yang dilaksanakan di wilayah tersebut.

“Korea Utara telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang peluncuran rudal balistik”, kata juru bicara Hua Chunying. Meskipun demikian, “Korea Selatan, AS – dan sekarang Jepang – bersikeras untuk tetap melakukan latihan militer berskala super besar”, tambahnya.

Hua Chunying, menyebut bahwa tindakan militer dari negara-negara yang berpartisipasi dalam latihan perang tersebut sebagai “lingkaran setan yang bisa lepas kendali”.

Sputnik News

Sharing

Tinggalkan komentar