Taiwan Mempunyai Rudal Yang Bisa Hancurkan Pangkalan Militer China

Rudal jelajah permukaan-ke-permukaan Hsiung Feng IIE (HF-2E). (ROCAF)

Taiwan telah mengakui memiliki rudal yang dapat menghantam pangkalan dan instalasi militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang berada dalam wilayah China daratan, semikian seperti dilansir dari China Topix.

Menteri Pertahanan Taiwan, Feng Shih-kuan kepada Yuan Legislatif (Parlemen Taiwan) menyebutkan bahwa Angkatan Bersenjata Republik China (ROCAF) memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal jarak jauh ke dalam wilayah China, sebuah pernyataan yang mengejutkan, berdasarkan apa yang diketahui tentang rudal jelajah serang darat dari ROCAF ini.

Pejabat di departemen pertahanan mengklaim bahwa Taiwan memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal ke pangkalan PLA yang berjarak 1.000 km jauhnya.

Pangkalan militer PLA yang digunakan untuk invasi amfibi berada dalam jangkauan rudal Taiwan ini, rudal yang paling mungkin adalah Hsiung Feng IIE (HF-2E) sebuah rudal jelajah serang darat, sebagaimana dilansir dari China Topix pada hari Minggu.

Berbekal hulu ledak 450 kg yang memiliki daya ledak tinggi, HF-2E dapat menghancurkan target pada jarak 700 km. Markas PLA terdekat adalah sejauh 240 km jauh, sementara yang terjauh adalah sekitar 1.300 km.

“Ini adalah pertama kalinya kementerian pertahanan telah mengkonfirmasi kemampuan rudal ini”, kata Anggota Parlemen Wang Ting-yu.

Letnan Jenderal Chiang Chen-chung, direktur Kantor Operasi dan Perencanaan Departemen Pertahanan Nasional, mengatakan bahwa ROCAF memang memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal serangan balasan terhadap China.

“Kami memiliki kemampuan dan kami terus memperkuat kemampuan seperti itu”, kata Jenderal Chiang. Dia mengungkapkan bahwa ROCAF juga dapat menyerang pangkalan PLA yang mengarahkan operasi terhadap Taiwan hingga jarak 1.300 km.

Laporan Pertahanan Empat Tahunan (QDR) yang diserahkan kepada Parlemen menegaskan strategi Taiwan untuk “meningkatkan kemampuan pencegahan” yang di definisikan kementerian pertahanan sebagai strategi yang bukan hanya untuk pertahanan, tapi mampu memberika respon yang cepat untuk mencegah invasi.

“Jika musuh bersikeras menyerang, kami akan melemahkan kemampuan mereka dengan menyerang pasukan musuh di markas mereka sendiri, memerangi mereka di laut, menghancurkan mereka ketika mereka mendekati garis pantai dan mengusir mereka keluar dari pantai”, demikian menurut catatan QDR.