Sekilas Tentang Si Elang Legendaris

Pesawat F-16 TNI AU (Photo : F-16.net)

Indonesia mendapatkan 4 lagi pesawat tempur F-16 C/D Block 52 ID. Ke empat pesawat terbang secara feri dari Amerika menuju Indonesia dengan singgah terlebih dahulu di beberapa tempat. Suka tidak suka, di tengah banyak pro kontra kedatangan F-16 baru tapi bekas ini adalah bagian dari program “Peace Bima Sena II” dimana program ini merupakan program Pengadaan 24 pesawat F16 C/D-52ID merupakan kerjasama antara Pemerintah AS dan Indonesia berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada tanggal 17 Januri 2012.

Rencananya,Pengadaan 24 F-16 C/D-52ID tersebut akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin untuk menambah kekuatan tempur TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung kekuatan udara nasional NKRI.

F-16 Fighting Falcon sendiri merupakan pesawat tempur yang sudah sangat teruji di medan pertempuran. F-16 Juga merupakan pesawat tempur yang sangat laris di pasar Internasional. Hingga kini tercatat ada kurang lebih ada 25 negara pengguna dengan total populasi mencapai 4500 unit di seluruh dunia. F-16 sendiri merupakan pesawat tempur multiperan yang bisa beroperasi di segala cuaca. Pesawat ini pertama kali di disain untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur ringan yang canggih namun berharga murah. Harga yang relatif murah dibanding saudara seangkatannya (F-14 dan F-15) namun bisa menangani berbagai misi seperti Combat Air Patrol, interceptor, SEAD, hingga CAS.

Saat ini memang perang skala besar kemungkinan besarnya kecil terjadi di Indonesia, namun kemampuan untuk menangkalnya harus tetap ada. Namun yang namanya potensi konflik tetap ada, walau mungkin skala konfliknya tidak sebesar perang total seperti insurjensi.

Membeli pesawat serang darat murah seperti EMB-314 Super Tucano memang dapat menjadi alternatif dalam masalah penumpasan insurjensi, namun pesawat COIN seperti EMB-314 Super Tucano saja tidak bisa menjalankan banyak misi, apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar. Karena itu, F-16 bisa menjadi solusi bagi pemerintah suatu negara yang ingin berinvestasi dalam sebuah pesawat tempur yang dapat menjalankan berbagai misi namun dengan anggaran yang tidak terlalu besar jika kita tidak ingin menyebutnya murah.

Memang, F-16 bukanlah petempur secanggih penempur superioritas udara macam Sukhoi Su-27 / 30 yang merupakan petempur kelas berat, namun kemampuannya di medan pertempuran tidak usah diragukan lagi. Israel lah yang pertama kali memberikan cap battle proven terhadap F-16 Fighting Falcon. Israel membeli pesawat F-16 A/B pertama mereka tahun 1980, dan setahun kemudian mereka menjadikan pesawat – pesawat F-16 mereka sebagai ujung tombak dalam operasi Babylon untuk menyerang reaktor nuklr Irak di Osirak. Beberapa minggu kemudian, pilot Israel pulalah yang pertama kali membukukan kemenangan F-16 atas lawannya MiG-21 Suriah diatas langit Lebanon.

Setelah itu, F-16 di seluruh dunia juga ikut beraksi diberbagai palagan pertempuran di seluruh dunia. Mulai dari operasi Dessert Storm di Atas langit Kuwait dan Irak 1991, Konflik di semenanjung Balkan dari tahun 1994 – 1999, Konflik di Venezuela tahun 1992, Konflik Pakistan – India 1999, Operasi Enduring Freedom Afganistan 2001, Operasi Iraqi Freedom, Konflik Libya, Konflik Suriah, hingga konflik di Yaman 2015 silam.

F-16 Indonesia sendiri tidak ketinggalan aksi. Dari mulai diterjunkan di Timor Leste, Aceh, Patroli udara di Ambalat dan Laut Tiongkok Selatan, Hingga latihan bersama dengan negara lain. Dan yang paling disorot adalah insiden Bawean dimana aksi 2 F-16 TNI AU berani mengintercept penerbangan ilegal pesawat-pesawat tempur F-18 Super Hornet yang berasal dari kapal induk Amerika USS Carl Vinson yang ketika itu sedang berlayar di laut Jawa.

Namun, selama berbakti kepada ibu pertiwi, F-16 tidak terhindarkan dari yang namanya musibah. Musibah pertama terjadi pada tahun 1992, dimana ketika itu Pesawat F-16 B Block 15 OCU nomor registrasi TS-1604 jatuh di Tulungagung, 5 tahun kemudian pesawat serupa dengan nomor ekor TS-1607 jatuh di sekitar Lanud Halim yang mengakibatkan pilotnya meninggal dunia, hingga 2 kejadian terakhir yang melibatkan F-16 Block 52ID, TS-1643 yang tergelincir di Halim 2015 silam, dan F-16 Block 15 OCU TS-1603 yang tergelincir di Pekanbaru beberapa hari lalu.

Walau pernah terjadi musibah, keluarga F-16 di Indonesia semakin bertambah. Maret ini 4 pesawat F-16 C/D block 52ID tiba kembali di Lanud Iswahjudi. Dengan kedatangan 4 pesawat ini maka populasi F-16 Block 52ID menjadi 18 unit. Sisa 6 unit lainnya dikabarkan akan segera menyusul dikirim ke Indonesia akhir tahun ini. Penjualan F-16 ini sendiri disertai dukungan persenjataan modern dari Amerika. DIkabarkan pemerintah Amerika sendiri sudah menyetujui penjualan rudal jarak menengah AIM-120 AMRAAM, selain rudal jarak pendek, AIM-9 Sidewinder, sehingga F-16 TNI AU bisa memiliki kemampuan Beyond Visual Range (BVR) atau kemampuan serang jarak jauh.

Dalam scope global, F-16 sendiri sebenarnya sudah akan masuk dalam usia pensiun. Israel sudah mengumumkan bahwa F-16 generasi awal mereka (F-16 Netz) pensiun, Amerika berencana menggunakan F-16 hingga sekitar tahun 2025 atau sampai F-35 Lightning II siap beroperasi penuh, Italia menghakhiri tugas dan mengembalikan F-16 mereka ke Amerika pasca operasi di Libya berakhir, Belanda mengurangi F-16 mereka dengan menjualnya ke pemerintah Chile, dan Norwegia akan mempensiunkan armada F-16 mereka pada tahun 2022 nanti.

Pihak pengembangan utamanya saat ini Lockheed Martin sendiri sudah menurunkan kapasitas produksi F-16 di tahun 2017 ini dan mungkin akan berakhir di tahun 2020 apabila pasar dari F-16 block 70 Viper yang merupakan versi F-16 tercanggih tidak dapat terjual sesuai harapan. Di tahun 2020, Lockheed Martin berencana akan lebih fokus memproduksi dan menjual pesawat generasi baru, F-35 Lightning II.

Di pasar internasional memang F-16 Block 70 Viper ini sedang bertempur habis-habisan untuk bisa mendapatkan tender, seperti yang terjadi di Indonesia dan India. Pemerintah Indonesia sendiri sampai saat ini belum mengumumkan pesawat pengganti F-5 Tiger yang sudah memasuki usia pensiun di tahun 2017 ini.

F-16 Block 70 viper yang dinilai sebagai pesawat F-16 tercanggih sendiri masuk kedalam tender dan bersaing ketat melawan Su-35 Super Flanker Rusia, JAS39 – Grippen Swedia, dan Eurofighter Typhoon Eropa. Saat F-16 Indonesia sendiri pensiun sekitar 15-20 tahun mendatang, saya berharap pemerintah sudah dapat merampungkan proyek IFX, sehingga pesawat pengganti F-16 nanti merupakan salah satu karya anak bangsa yang menjadi kebangaan sendiri dalam menjaga kedaulatan NKRI .

PENULIS : PRASTA KUSUMA, S.IP
ALUMNI ILMU PEMERINTAHAN UNPAD

Tinggalkan komentar