China Akan Berperang Bersama Korea Utara Untuk Mencegah Bersatunya Korea Pro Barat

Tentara China melintasi Sungai Yalu menuju Korea Utara dalam Perang Korea tahun 1950-1953. © PLA

China akhirnya mengungkapkan situasi strategis yang akan memaksa untuk berperang melawan Amerika Serikat dan mengatakan akan berperang bersama samping Korea Utara untuk mencegah AS membentuk pemerintahan pro-Barat di negara Korea bersatu.

Alasan pertama bagi China memicu Perang Dunia III disebabkan karena Amerika Serikat dan Korea Selatan bermaksud mendirikan sebuah pemerintahan pro-demokrasi di Korea Utara setelah mengalahkan negara itu dalam perang.

Alasan yang kedua adalah pergerakan pasukan Angkatan Darat atau Korps Marinir AS menuju tepi Sungai Yalu yang memisahkan Korea Utara dari China.

Pergerakan pasukan seperti ini di bulan Oktober 1950 selama Perang Korea telah memaksa China untuk mengirim “Tentara Relawan Rakyat Cina” untuk menyerang Angkatan Darat dan unit Marinir AS yang telah bergerak ke Sungai Yalu setelah mengalahkan Tentara Rakyat Korea Utara.

China membuat dua poin tersebut dengan sangat jelas dalam sebuah editorial di salah satu surat kabar resmi Partai Komunis China. Dalam editorial itu, China mengatakan bahwa mereka akan menyerang fasilitas nuklir yang dioperasikan oleh Korea Utara jika fasilitas ini mengancam keamanan dan stabilitas di Laut China Timur dengan kontaminasi nuklir.

Diakui bahwa serangan hukuman oleh Angkatan Darat China terhadap fasilitas nuklir Korea Utara akan mengakibatkan ratusan ribu pengungsi Korea Utara melarikan diri dari perang dan mencari perlindungan di provinsi Liaoning dan Jilin disebelah timur laut China, yang berbatasan dengan Korea Utara.

Banjir pengungsi tersebut tidak diperbolehkan memasuki China, kata editorial tersebut.

Tetapi apabila Amerika Serikat dan Korea Selatan mengambil keuntungan dari kekacauan ini dengan menginvasi Korea Utara, maka China tidak punya pilihan lain selain berjuang bersama Korea Utara seperti yang terjadi dalam Perang Korea 1950-1953.

“China tidak akan membiarkan adanya pemerintahan yang bermusuhan terhadap China di sisi lain dari Sungai Yalu, dan militer AS tidak boleh mengerahkan pasukan militernya ke Sungai Yalu”, kata editorial tersebut.

Editorial tersebut mencatat “Kalimat ini dimaksudkan untuk Amerika Serikat, karena alasan dari semua itu adalah bahwa militer Amerika Serikat telah meluncurkan serangan kepada DPRK (Korea Utara)”.

Editorial juga memperingatkan kepada “Sekutu Amerika Serikat yaitu ROK (Korea Selatan) tidak boleh mengerahkan pasukan ke Sungai Yalu yang harus dipahami oleh militer Amerika Serikat dan Korea Selatan sebenarnya adalah bahwa pasukan mereka tidak boleh mengganggu Sungai Yalu”.

Editorial itu mengingatkan Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam Perang Korea, bahwa pasukan sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat mengumumkan bahwa pasukan sekutu tersebut tidak akan memajukan medan perang hingga ke Sungai Yalu, tetapi akan berhenti di 40 mil (64 km) di perbatasan selatan China-Korut. Mereka menyebut garis ini sebagai “MacArthur Line”.

Namun semua itu tidak terjadi, dan pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat (UNC) terus maju hingga ke Sungai Yalu, dan akhirnya memicu intervensi militer China dalam Perang Korea tersebut dan menyelamatkan Korea Utara yang kalah dari serangan pasukan sekutu.