Pembelian MiG-29 Malaysia Yang Membingungkan India

Jet tempur multirole MiG-29 Angkatan Udara Malaysia. © US Air Force via Wikimedia Commons
Pembelian MiG-29 Malaysia Yang Membingungkan India 1

JakartaGreater.com – Beberapa perjanjian pertahanan yang terlihat masuk akal dari sudut pandang pandang jangka panjang, dan beberapa diantaranya masuk akal dari perspektif menutup kesenjangan secara langsung, seperti dilansir dari Defence Update.

Dan beberapa diantaranya malah membuat orang lain garuk kepala.

Pada tanggal 5 April muncul laporan di media Malaysia menunjukkan bahwa India berupaya untuk mengakuisisi jet tempur MiG-29 era 1990-an milik Angkatan Udara Malaysia (TUDM) sebagai bagian dari perjanjian kerjasama militer yang lebih besar antar kedua negara.

Sebagaimana disebutkan oleh Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, bahwa proposal akan melibatkan quid pro quo dimana Malaysia kemudian akan menerima suku cadang dari India untuk jet tempur Su-30-nya. Apakah ini adalah suku cadang yang bersumber dari kanibalisasi jet tempur Su-30MKI Angkatan Udara India atau mungkin dari hub penyimpanan Hindustan Aeronautics Ltd (HAL), namun masih belum jelas.

Komentar yang dibuat oleh Perdana Menteri Malaysia mengenai usulan tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena menimbulkan banyak pertanyaan.

Mengapa India akan ingin menambahkan jet tempur dari Malaysia padahal jet tempur itu sudah tua dan berencana untuk pensiun dari layanan operasional Angkatan Udara India dalam sepuluh tahun mendatang?

Lebih tepatnya, mengapa harus menambahkan jet tempur yang harus menjalani upgrade sebelum memasuki layanan dan hanya sedikit meningkatkan kemampuan IAF yang ada?

Saat ini, Angkatan Udara India secara resmi memiliki sekitar 34 skuadron tempur, meskipun angka yang ada sebenarnya jauh lebih kecil dari itu. Mungkin sebab yang menjadi perhatian lebih besar adalah bahwa 14 dari skuadron ini akan pensiun pada tahun 2024, sementara beberapa proyek kemampuan inti masa depan masih dalam negosiasi dengan berbagai negara, sedangkan pengembangan telah berkurang karena tekanan keuangan.

Di bawah rencana jangka panjang, pada tahun 2032 Angkatan Udara India (IAF) akan butuh 810 unit jet tempur di 45 skuadron yang dapat digunakan untuk melakukan operasi secara simultan di bawah skenario konflik terburuk untuk menghadapi China dan Pakistan.

Namun menambahkan MiG-29 tidak akan melakukan apa-apa untuk memperbaiki masalah dalam inventarisasi armada tempur usang MiG buatan Rusia (MiG-21, MiG-27, dan MiG-29), armada Dassault Mirage 2000 tua dan pembom strategis Anglo Sepecat Jaguar buatan Perancis yang masuk ke dalam layanan antara tahun 1981-1985.

Maka ada banyak pertanyaan yang muncul dari proposal yang ditawarkan pihak Malaysia.

Mengapa pemerintah Malaysia menjual sisa 10 unit MiG-29N dan 2 unit pelatih MiG-29NU hanya untuk sekedar suku cadang dan [mungkin] sejumlah uang tunai sebagai imbalan?

TUDM telah menunggu pemerintah Malaysia untuk bergerak maju pada proyek utamanya, Multirole Combat Aircraft (MRCA), sejak Permintaan awal untuk Proposal (RFP) dirilis pada bulan Maret 2011. Proposal ini menyebutkan untuk mengakuisisi 18 jet tempur (dengan opsi tambahan 18 unit lagi) yang akan berfungsi sebagai pengganti armada MiG-29.

Namun, proyek MRCA tetap terhenti karena tekanan ekonomi dan keuangan Malaysia, yang berarti bahwa jika Malaysia jadi mentransfer armada MiG-29 ke India, itu akan meninggalkan TUDM tanpa penggantian pesawat tempur langsung dan kapasitas pesawat tempur yang ada menjadi lebih rendah.

Meskipun telah ada serentetan laporan terbaru bahwa Malaysia telah memilih tawaran MRCA dari Dassault Rafale Perancis (daripada Eurofighter Typhoon, Boeing F/A-18 Super Hornet dan Saab Gripen), tampaknya pemerintah Malaysia tidak bernafsu untuk membeli pesawat tempur mahal.

Secara politik dan situasi anggaran saat ini tidak menguntungkan bagi Malaysia bergerak maju pada pengadaan MRCA. Anggaran pertahanan 2017 sendiri mengalami penurunan 13 persen dari tahun sebelumnya sehingga hampir tidak menunjukkan kesiapan untuk maju pada proyek akuisisi yang diperkirakan akan menelan biaya US $ 2 miliar.

Pada akhirnya, apa pun penghematan keuangan meskipun kecil akan dikumpulkan Malaysia dengan mengorbankan menjual armada MiG-29 meskipun itu tidak bisa menyelesaikan masalah keuangan agar dapat bergerak maju pada proyek MRCA sebelum di mulainya rencana pertahanan lima tahun berikutnya di tahun 2021.

Meskipun TUDM masih memiliki armada jet tempur Sukhoi Su-30MKM dan Boeing F/A-18 Hornet, tetap saja mereka akan kekurangan kapasitas karena hanya memiliki 26 unit jet tempur. Yang mungkin menjadi risiko bagi perencana pertahanan dan pejabat pemerintah Malaysia untuk turut serta dalam konflik eksternal secara langsung di cakrawala.

Seluruh ide dari Angkatan Udara India adalah bahwa, jika mereka bisa mendapat sejumlah jet tempur yang lebih murah maka itu juga merupakan pilihan yang lebih baik daripada membeli pesawat tempur baru yang lebih mahal yaitu F-16 Blok 72 seharga US $ 100+ juta per unit, Grippen E/NG seharga US $ 86+ juta per unit.

HAL sekarang menjadi ahli dalam meng-upgrade MIG-29 tua hingga setara dengan MIG-35 standar pada biaya cukup rendah, kurang dari US $ 15 juta per unit, menggunakan avionik, komputer dan radar AESA buatan DRDO serta hanya HMD yang berasal dari Thales.

Mengingat semua fakta tersebut maka memang masuk akal bila India bermaksud mendapat MiG-29 dari Malaysia untuk Angkatan Udara India. Ini adalah seperti contoh lain dari “Joget” India, membuat yang terbaik dari apa yang sudah Anda miliki, dalam hal ini adalah Mig-29.

Leave a Comment