PT PAL Segera Bangun Kapal Selam

Kapal Selam KSS 500A yang sedang dibangun Korea Selatan untuk operasi garis pantai hingga kedalaman 350 m
Kapal Selam KSS 500A yang sedang dibangun Korea Selatan untuk operasi garis pantai hingga kedalaman 350 m

Indonesia dan Korea Selatan bekerja sama untuk membangun tiga kapal selam. Untuk keperluan itu Indonesia akan mengirim 208 orang dari PT PAL untuk mendapatkan pendidikan di Korea Selatan. Dari ketiga kapal selam tersebut, rencananya ada satu kapal yang akan dibangun di Indonesia. Tetapi, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menekankan, PT PAL harus siap sebelum melakukan pembangunan tersebut.

“Kebutuhan kapal selam dan korvet (kapal perusak rusak), akan dibangun di Indonesia. Diperlukan kesiapan PT PAL berdasarkan undang-undang,” ujar menteri Pertahanan saat jumpa pers usai sidang ke-10 Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), di kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Rabu (6/11).

Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)

Pembuatan kapal selam yang diserahkan kepada PT PAL, juga terhubung dengan BUMN agar mengetahui mengenai pembangunan ini. “Kapal kombatan harus terintegrasi dengan BUMN. Kebutuhannya berapa ? Apa yang dibutuhkan?” jelasnya.

Mengenai pembangunan kapal selam ini, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyetujui ide yang disampaikan Kementerian Pertahanan. Menurutnya, konsep yang dijabarkan jelas karena memaksimalkan industri Indonesia.

“Menhan konsepnya jelas, semaksimal mungkin industri di dalam negeri,” ungkapnya di lokasi yang sama.

Rencananya Dahlan akan meminjamkan uang dari bank BUMN sambil menunggu dana dari APBN. Hal ini dilakukan agar proyek pembangunan kapal selam ini segera berjalan.

Dahlan bahkan menyebut pembangunan kapal selam ini penting. Sebab, Indonesia dikelilingi laut dan mudah dilalui kapal-kapal asing.

“Prinsipnya kapal selam ini penting. Karena dua per tiga negara kita adalah laut. Karena itu, hal ini bisa dilalui kapal di atas, di dalam dan udara. Perlu untuk kita jaga pintu masuk dan pintu keluarnya,” jelasnya. (Merdeka.com).

Sharing

Tinggalkan komentar