Rusia Memiliki Bom Elektronik Untuk Lumpuhkan Militer AS

Kapal induk USS Carl Vinson di pelabuhan Busan, Korea Selatan pada 15 Maret 2017. © Yonhap

Saluran berita milik pemerintah Rusia, mengklaim bahwa militer negara tersebut telah punya senjata elektronik yang dapat sepenuhnya melumpuhkan seluruh kapal perang dan pesawat AS tanpa memerlukan amunisi. Sistem yang disebut sebagai “Russian Electronic Warfare” yang mampu mengganggu transmisi sinyal radio kontrol, seperti dilansir dari IB Times UK.

Dalam sebuah siaran televisi pada program Vesti di stasiun televisi Rusia-1, bahwa sistem tersebut diklaim telah digunakan oleh sebuah jet pembom Sukhoi Su-24 Rusia lawan kapal perusak kelas Arleigh Burke Angkatan Laut AS, USS Donald Cook (DDG-75) di Laut Hitam pada tahun 2014 silam. Kapal USS Donald Cook tersebut kehilangan tenaganya dan harus segera dilarikan ke Pelabuhan di Rumania

Sistem peperangan elektronika Rusia. © Rusia-1

Vesti mengutip ucapan seorang Jenderal Angkatan Udara AS yang sekarang telah pensiun, Jenderal Frank Gorenc yang mengatakan “Senjata elektronik Rusia itu benar-benar mampu melumpuhkan fungsi peralatan elektronik Amerika Serikat termasuk rudal, pesawat terbang dan kapal laut”.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kini Rusia mampu menciptakan sebuah kubah jamming elektronik diatas pangkalan militernya yang membuat mereka “tak bisa terlihat” dari pengawasan musuh. Reporter menambahkan: “Anda tak perlu senjata mahal untuk menang [jammer] elektronik yang kuat sudah cukup”.

AS belum berkomentar mengenai klaim tersebut namun laporan terbaru menunjukkan bahwa militer Rusia menjadi semakin agresif dan ambisius. Rudal hipersonik “Zircon”, yang mampu meluncur dengan kecepatn 6 mach, baru saja diumumkan. Rusia telah membangun sebuah pangkalan militer baru yang besar di Arktik, dan 2 pesawat pembom Rusia pada hari Selasa terbang di dekat Alaska untuk kedua kalinya dalam waktu 24 jam, menurut Fox News.

Rusia mengklaim,  bahwa mereka terpaksa memperkuat militernya karena perluasan NATO hingga ke perbatasan Eropa. Moskow juga prihatin terhadap tindakan Amerika Serikat saat ini, termasuk sikap agresif Presiden AS Donald Trump terhadap Korea Utara serta serangan rudal jelajah melawan sebuah pangkalan udara Suriah.