Ini Tujuan Operasi Kapal Induk Kedua China

Peluncuran kapal induk kedua China, buatan dalam negeri (Xinhua)

Shanghai – China perlu meningkatkan kemampuan militer untuk melindungi perkembangan kepentingan luar negerinya, ujar Menteri Luar Negeri China setelah peluncuran kapal induk pertama buatan dalam negeri, namun ia berjanji tidak melakukan perluasan wilayah.

China meluncurkan kapal induk kedua pada Rabu di tengah peningkatan ketegangan terhadap Korea Utara dan kekhawatiran kawasan tentang ketegasan Beijing di Laut China Selatan serta modernisasi lebih luas ketentaraannya.

Ketika berbicara saat berkunjung ke Jerman, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan perniagaan dan warga China menyebar ke seluruh dunia, dengan jutaan orang tinggal di luar negeri dan hampir 30.000 usaha didanai China terdaftar di negara lain.

“Di bawah lingkungan baru itu, China memiliki banyak alasan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negaranya untuk melindungi hak keadilan secara efektif, yang semakin luas, ke luar negeri,” ujar Wang dalam menanggapi pertanyaan mengenai kapal induk baru tersebut pada Kamis.

Wang mengatakan bahwa postur militer China yang meningkat akan membantu “melindungi perdamaian internasional dan regional”.

China akan mempertahankan kebijakan militer bertahan dan tidak berniat melakukan ekspansi apapun, katanya menambahkan.

Angkatan Laut China telah mengambil peran yang semakin menonjol dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kapal induk pertamanya yang sudah berlayar mengelilingi Taiwan dan kapal-kapal perang barunya berada di lokasi perairan yang lebih jauh.

Sedikit yang diketahui tentang program kapal induk domestik China yang menjadi rahasia negara. China juga tidak memberikan rincian pengeluaran untuk anggaran pertahanannya.

Kapal induk pertama China, Liaoning (IndianDailyDefence?)

Namun, pemerintah telah mengatakan bahwa rancangan kapal induk baru tersebut mengacu pada pengalaman dari kapal induk pertamanya, Liaoning, kapal induk bekas buatan Rusia yang dibeli dari Ukraina pada tahun 1998 dan kemudian diperbaiki di China.

Media pemerintah telah mengutip para ahli yang menyampaikan bahwa China membutuhkan setidaknya enam kapal induk, dan sejumlah markas maritim luar negeri untuk mendukung operasi mereka.

Namun, pakar mengatakan China masih jauh untuk menandingi Amerika Serikat, yang menggelar 10 kapal induk dan berencana membangun dua lagi, selain AS memiliki pengalaman puluhan tahun menggerakkan kapal induk, tepatnya sejak pra-Perang Dunia II.

Kapal induk kedua milik China tersebut berbeda dengan yang bertenaga nuklir dan masih menggunakan landasan pacu lompatan bergaya rancangan kapal induk Soviet, termasuk Inggris, untuk memberikan daya dorong cukup bagi jet tempur untuk lepas landas dari anjungan lebih pendek.

Rancangan landasan berbeda dengan yang digunakan pada kapal induk AS, alih-alih menggunakan landasan lompat kapal induk AS menggunakan perangkat ketapel bertenaga uap yang dipasangkan pada roda pesawat, sehingga jet tempur atau pesawat patroli lepas lendas akan dilontarkan menggunakan perangkat tersebut pada landasan pacu datar, tidak seperti landasan pacu rancangan Uni Soviet atau Inggris, yang memiliki ujung landasan melengkung.

Lebih lanjut, China pun masih kekurangan teknologi pendorong yang kuat untuk meluncurkan pesawat seperti yang digunakan pada sistem ketapel kapal induk AS.

Kapal induk baru China tersebut diperkirakan tidak akan memasuki masa tugas penuh hingga 2020.

Antara/Reuters