Kamboja Tendang Angkatan Laut AS, Terima $ 157 Juta dari China

Kapal patroli Angkatan Laut Kamboja. © Global Security

Pemerintah Kamboja secara tiba-tiba mengatakan kepada Angkatan Laut AS untuk segera meninggalkan negara tersebut, disaat yang sama menerima paket baru senilai US $ 157 juta dari China. Langkah Kamboja tersebut menunjukkan bahwa Kamboja adalah negara terbaru dari beberapa negara Asia yang telah beralih kemitraan dari Amerika dan melangkah lebih dekat bersama China, seperti dilansir dari China Military.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kamboja, mengumumkan berita tersebut pada halaman facebook-nya. “Batalyon Konstruksi Mobile Angkatan Laut AS – dikenal sebagai Seabees – meninggalkan Kamboja setelah melaksanakan misi bantuan kemanusiaan 9 tahun”, menurut kedutaan tersebut.

Pengumuman tersebut mengatakan bahwa penutupan tersebut atas permintaan pemerintah Kamboja. Pekan lalu, Pemerintah Kerajaan Kamboja sudah memberi tahu Kedutaan Besar AS mengenai keputusannya untuk menunda program Seabees tanpa batas waktu.

Keputusan ini membatalkan 20 proyek yang telah direncanakan, termasuk bangsal bersalin dan kamar mandi sekolah. Program Seabees melaksanakan proyek pelayanan masyarakat yang memberi manfaat bagi puluhan ribu orang Kamboja senilai lebih dari US $ 5 juta dan 11 provinsi di Kamboja yang mendapat keuntungan dari proyek tersebut.

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menerima hibah dari Pemerintah China senilai US $ 157 juta untuk membangun stadion sepak bola baru, di mana Kamboja berencana untuk menjadi tuan rumah SEA Games pada tahun 2023, hanya sehari setelah Batalyon Konstruksi Mobile “Seabees” Angkatan Laut AS diberangkatkan dari Kamboja.

Sejak tahun 2002, Kamboja telah menerima hampir US $ 3 miliar dalam bentuk pinjaman dari China untuk puluhan proyek pembangunan. Bulan Oktober 2016 lalu, China memangkas hutang Kamboja sebesar US $ 89 juta sebagai niat baik Beijing di Phnom Penh.

Perubahan yang sama juga sedang berlangsung dalam urusan militer. Tahun lalu, Kamboja melakukan latihan Angkatan Laut bersama pertamanya dengan China dan menyambut baik latihan militer dan persenjataan dari Angkatan Bersenjata China.

Pada tanggal 16 Januari tahun ini, Kamboja mengumumkan telah membatalkan latihan militer gabungan tahunan bersama dengan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Menjauhnya Kamboja dari AS dan lebih mendekat kepada China ini sejalan dengan sejumlah negara di kawasan termasuk Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia dan negara-negara Asia lainnya. Mereka mengubah sikap diplomatik sesuai dengan perubahan ini.

Dalam sebuah laporan strategi pada bulan Desember lalu, Ross Babbage, pengamat senior di lembaga thing tank Pusat Penilaian Strategis dan Anggaran AS, menjelaskan: “Sebagai efek dari tekanan Beijing terhadap negara-negara regional yang tercermin kontrak, memakai ekonomi sebagai pertukaran atas kepatuhan politik, dengan tongkat besar yang mengintai di balik layar atas perilaku menyimpang. Kerusakan signifikan sedang dibuat pada kredibilitas AS dan sekutunya. Dengan tidak adanya perubahan besar dalam kebijakan sekutu, sebagian besar Asia Tenggara kemungkinan akan beralih ke poros Beijing”.

Kamboja dan negara-negara diwilayah Asia lainnya menyadari “tongkat besar” China yang tersembunyi di balik layar dan juga mengerti bahwa Amerika tidak dapat lagi diandalkan untuk melindungi mereka dari tongkat itu. Jadi tentu saja mereka berubah.

Untuk memahami tren profetis yang signifikan dan telah disoroti oleh perubahan, tentu saja di Kamboja dan sekitarnya, membaca “apakah sekutu Amerika di Asia berporos ke China?”.