China Usir “Mata-Mata” AS Setelah Ditahan 2 Tahun

Shanghai – China telah mendeportasi seorang warga negara Amerika Serikat pekan ini, yang dinyatakan sebagai mata-mata, setelah penahanan selama dua tahun tanpa proses peradilan.

Warga AS Sandy Phan-Gillis, ditangkap pada Maret 2015 saat akan meninggalkan China daratan menuju Makau, wilayah China bekas jajahan Portugis. Sebelum menjadi warga Amerika Serikat, Sandy Phan-Gillis adalah warga China yang lahir di Vietnam.

Pada Selasa 25/4/2017, Pengadilan China memerintahkan agar Sandy Phan-Gillis dihukum selama 3,5 tahun penjara atas aksi mata-mata. Namun sebelum menjalani keputusan tersebut, Sandy telah diusir dan meninggalkan China pada Jumat 29/4/2017 dari kota selatan Guangzhou dan tiba di Los Angeles pada hari yang sama.

Pemerintah China belum memberikan keterangan rinci menyangkut dakwaan yang dikenakan terhadap Sandy. Kuasa hukumnya mengatakan kepada Reuters, Selasa, ia tidak dapat mengungkapkan rincian kasus karena menyangkut “rahasia negara.” Suami Sandy, Jeff Gillis, mengatakan China menuduh istrinya masuk ke negara itu dua kali untuk menjalankan misi spionase pada 1996 serta bekerja dengan Biro Penyelidik Federal AS untuk menangkap dua mata-mata China di Amerika serikat dan menjadikan mereka agen ganda.

Pengusiran dilakukan pada saat hubungan China dan Amerika Serikat sedang menghangat setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Florida pada awal April.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis, Trump menyebut Xi sebagai “orang baik” dan memuji presiden China itu atas upayanya menekan Korea Utara untuk menghentikan pengembangakan senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh.

Seorang pejabat pada Departemen Luar Negeri AS mengatakan Deplu AS tahu soal pengusiran Sandy.

“Amerika Serikat mengucapkan selamat kembali ke tanah air (bagi Sandy, red),” ujar pejabat yang tidak bersedia diungkapkan jati dirinya itu.

Negosiasi bagi pembebasan Sandy ditingkatkan ketika Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson melakukan kunjungan ke Beijing pada Maret, menurut yayasan yang berpusat di San Francisco, Dui Hua Foundation.

“Sandy sangat senang bisa berkumpul kembali dengan teman-teman dan keluarga, dan menyampaikan terima kasih kepada banyak orang yang tanpa kenal lelah telah membantu pembebasannya,” ujar Gillis.

Antara / Reuters