Roket Himars atau WeiShi-2

Satu persatu persenjataan Indonesia yang akan dibeli dari Rusia, rontok di tengah jalan. Indonesia membatalkan pembelian dua kapal selam Rusia klas Kilo Project 877 Paltus, karena Rusia tidak bersedia melakukan alih teknologi. Indonesia akhirnya memilih tiga kapal selam Korea Selatan Changbogo U 209/1400. Satu dari tiga kapal selam tersebut akan dibangun di PT PAL Surabaya- Jawa Timur.

Indonesia juga membatalkan pembelian roket multi laras MLRS BM 30 Smerch buatan Rosoboronexport, karena jarak tembak roket, tidak memenuhi kebutuhan TNI.

“Kami tidak ingin membuang waktu atau terbawa ke dalam khayalan”, ujar Nikolai Dimidyuk, agen Rosoboronexport di Moskow 2 Mei 2012. “BM 30 Smerch sangat memenuhi kebutuhan militer Indonesia dan efektif dalam pertempuran”, tambahnya.

Kenapa Bukan Smerch
Daya Hancur MLRS Smerch tidak perlu diragukan lagi. Dalam 5 menit, Smerch siap ditembakkan salvo, untuk melumat ratusan hektar wilayah: infanteri, kendaraan tempur, logistik, pos komando, ranjau dan lainnya. Jika dipasang hulu ledak thermobaric, pasukan musuh akan mati sesak napas karena paru-paru mereka mengering dan terbakar.

Namun jarak tembak Smerch hanya 90 km. Secara teknologi tidak ada yang istimewa bagi Indonesia. Tahun 2012 ini Indonesia telah membuat roket berdaya tembaknya melebihi roket Smerch. Tim riset TNI juga terus mengembangkan hulu ledak panas (HE).

Indonesia hanya akam membeli BM 30 Smerch, jika jarak tembaknya 300 km. Hal ini tidak bisa dipenuhi Rusia.

Menjadi Rumit
Rencana pembelian roket multi laras Smerch sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2008 namun terus tertunda.

Pada Tahun 2012 TNI kembali mematangkan pembelian MLRS dan dilakukanlah tender. PT Rosoboronexport Rusia yang juga penjual SU 30 MK2 dan Tank Amfibi BMP 3 Indonesia, ikut tender tersebut.

Roket Smerch tidak lagi masuk kualifikasi, karena teknologi roket Indonesia terus berkembang. Indonesia telah memiliki teknologi roket balistik Smerch, walau hulu ledaknya belum sehebat milik Rusia.

Sementara Rusia tidak mendisain BM 30 Smerch sebagai roket jarak jauh, karena yang mereka butuhkan dari Smerch adalah daya hancur yang luas. Untuk menghancurkan target jarak jauh 300 Km ke atas, Rusia cukup menggunakan Rudal Iskandar berhulu ledak 800 Kg. Namun versi ini tidak dijual ke Indonesia.

Pengganti Smerch

Saat ini TNI sedang mengincar MLRS Himars buatan Amerika Serikat atau MLRS WS-2 China.

Himars adalah roket multi laras yang bisa berubah menjadi misil. Jarak tembak normal Himars 30- 70 Km. Namun jika diisi peluru ATACMS, jangkauannya menjadi 300 km.

Roket Himars kaliber 270 mm, bisa dipasang beragam munisi dari cluster HE hingga cluster anti tank. Salah satu andalan munisi Himars adalah M77 “Steel Rain”. Setiap hulu ledak memiliki 664 munisi kecil dan setiap munisi bisa menembus armor setebal 4 inch serta kemampuan anti personel. Himars juga memiliki munisi SADARM untuk melumpuhkan Main Battle Tank.

Peluru Himars juga bisa diganti berupa 6 laras roket atau satu rudal ATACMS. Namun Amerika Serikat tampaknya tidak akan memberikan rudal ATACMS kepada Indonesia. Rudal anti-tank hellfire saja, tidak dikasih. Jika AS menjual Himars ke Indonesia, tampaknya hanya munisi standar roket 6 tabung berhulu ledak HE dan steel rain.

Namun roket multi laras Himars memiliki kelebihan lain. Himars bisa diangkut dengan pesawat Hercules C-130, atau dimasukkan ke C 295 yang sedang dirakit di PT DI Bandung, Jawa Barat.

MLRS WeiShi-2
Sementara WeiShi-2/ WS 2 adalah roket balistik 6 laras kaiber 400-mm yang bisa ditembakkan sejauh 200 Km. Panjang roket 7,3 Kg dengan berat 1,3 Ton. Roket bisa disimpan bertahun-tahun di dalam kontainer tanpa memerlukan perawatan.

Roket WS 2 bisa ditembakkan secara tunggal atau salvo dengan berbagai jenis peluru: anti personel, anti armor serta peluru bakar (fuel air explosive). WS 2 juga bisa diupgrade menjadi misil yang dipandu satelit, untuk jelajah jarak menengah 350 Km.

Jika MLRS membutuhkaan waktu 5 menit untuk siap ditembakkan, MLRS WS 2 butuh waktu lebih lama, yakni 12 menit.

Pilih yang Mana

Jika Indonesia membeli roket multi laras WS 2, Indonesia memiliki opsi mendapatkan transfer teknologi. Transfer teknologi misil C 705 China, bisa dikembangkan ke kelas yang lebih advance WS 2. Pasokan rudalnya lebih aman dan kemampuan alih teknologi sejalan dengan rencana pemerintah.

Sementara jika membeli Himars, ada kemungkinan suatu saat TNI akan diembargo lagi. Kok gak kapok-kapok ya. Make up your mind !.(Jkgr).

Sharing

Tinggalkan komentar