Trump Butuh Duterte Hadapi Korea Utara

Presiden AS, Donald Trump (istimewa)

Washington – Gedung Putih membela keputusan Presiden Donald Trump mengundang Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Washington, dan menyatakan kerjasamanya diperlukan untuk melawan Korea Utara, meskipun pemerintahnya dikecam pembela hak asasi manusia atas perilaku Duterte. Duterte dituduh berbagai pihak di dunia telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam pemberantasan narkotika.

Trump menyampaikan undangan pada Minggu malam, 30/4/2017 yang oleh Gedung Putih disebut “percakapan telepon akrab” dengan Duterte.

“Tidak ada masalah berat dihadapi negara ini dan kawasan tersebut dibandingkan dengan yang ada di Korea Utara,” ujar Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus kepada ABC pada akhir pekan lalu saat Trump mencari dukungan lebih kuat dari Asia Tenggara dalam menghadapi program senjata nuklir Korea Utara.

Priebus menegaskan bahwa hubungan dengan Duterte bukan berarti masalah hak asasi manusia diabaikan, melainkan karena persoalan perkembangan Korea Utara sangat serius dan perlu kerjasama dalam titik tertentu dengan mitra sebanyak mungkin untuk memastikan arah sama.

Undangan bagi Duterte tidak memberikan tanggal yang tetap dan menjadi contoh terbaru yang diperlihatkan Trump terhadap pera pemimpin-pemimpin dunia yang memiliki masala HAM.

Misalnya, Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus menyampaikan pujian bagi pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin, menerima Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Gedung Putih dan berbincang hangat dengan Presiden China Xi Jinping yang ditekan Trump untuk berbuat lebih banyak guna membatasi sekutunya, Korea Utara.

Pada Minggu, Trump juga memperpanjang undangan ke Gedung Putih bagi Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, mantan jenderal yang dengan kekuasaan militer mengambil alih pemerintahan Thailand pada 2014, dan pemerintahan Prayuth memiliki hubungan yang tegang dengan pemerintahan Barack Obama.

Pemerintah Trump menegaskan bahwa undangan itu bukan penghargaan bagi Duterte atas kebijakannya tetapi untuk menjalin hubungan dengan Filipina, sekutu lama dan penting Amerika Serikat.

Antara