Interior BRP Davao Del Sur LD 602 Lebih Sempurna

Sejumlah prajurit Angkatan Laut Filipina berfoto bersama dengan latar Kapal Perang Strategic Sealift Vessel pesanan The Department Of National Defense Armed Forces Of Philippines saat pelepasan kapal itu di Dermaga Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (2/5). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Dibanding ekspor kapal pertama ke Manila, interior kapal perang perang Strategic Sealift Vessel (SSV) kedua buatan PT PAL Indonesia pesanan Filipina lebih sempurna pada saat diberangkatkan.

General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia, Satriyo Bintoro, mengatakan bahwa pihaknya mempunyai waktu yang cukup pada ekspor kedua kali ini, sehingga bisa dimanfaatkan untuk penyelesaian akhir beberapa interior kapal.

“Alhamdulillah pada keberangkatan kedua ini, kami mempunyai banyak waktu untuk finishing sejumlah interior, sehingga keberangkatan tidak seperti pada ekspor perdana yang diselingi perbaikan saat perjalanan menuju Manila,” ujar Satriyo di sela perjalanan menuju Manila, Rabu.

Sebelumnya pada ekspor perdana, PT PAL Indonesia melakukan beberapa penyempurnaan interior selama lima hari perjalanan, seperti pemasangan televisi lengkap dengan pengeras suara, penyediaan alat-alat dapur dan makanan, penyempurnaan pipa instalasi air, serta pemasangan listrik-listrik yang belum tersambung dengan baik.

Namun pada pemberangkatan kali ini beberapa interior sudah terpasang dengan baik, seperti plat pelindung hanggar helikopter, cat jalur tangga, serta televisi yang sudah terpasang di dapur umum.

Perjalanan ekspor kedua yang dilepas langsung Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu itu dinahkodai Kapten Munif, dan membawa 112 krew dari PT PAL Indonesia, 22 Anak Buah Kapal (ABK), lima petugas katering dan 115 awak dari Angkatan Laut Filipina.

Kapal jenis “Landing Platform Dock” (LPD) ekspor kedua yang diberi nama BRP Davao Del Sur LD 602 itu memiliki spesifikasi yang sama dengan kapal perang pertama, yakni memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter.

Selain itu, dapat digunakan operasi militer dalam penanggulangan gangguan keamanan dan ketentraman di wilayah territorial Filipina, dan mampu menampung 621 penumpang, serta bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 Ton.

Kapal memiliki kecepatan 16 knots dengan mesin pendorong 2 X 2,920 kW, dan juga mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil tumah sakit, hingga kapal patroli dan transporter, dan merupakan kapal hasil inovasi dari produksi kapal alih teknologi dengan Korea Selatan.

Sumber: Antara