Sabotase di Balik Gagalnya Peluncuran Rudal Korea Utara?

Ilustrasi serangan cyber AS yang menghancurkan rudal Korea Utara. © Defense World

Jari telah diarahkan kepada kemampuan perang cyber AS atas terulangnya kegagalan Korea Korea Utara untuk meluncurkan uji coba rudal. Sebuah pengujian rudal dilaksanakan segera setelah Pyongyang mengancam serangan nuklir melawan AS yang berakhir gagal, pada hari Sabtu lalu, serupa dengan kegagalan pada 14 April sebelumnya.

Saat ditanya pada Sabtu lalu tentang penggunaan alat peretas oleh pihak AS guna membatasi efektifitas program rudal Pyongyang, Presiden AS Donald Trump mengatakan, bahwa “Saya lebih suka tidak membahasnya, tapi mungkin rudal mereka tidak begitu bagus”.

“Jika Anda berpikir bahwa perang mungkin saja bisa berlangsung dalam keadaan tertentu, maka Anda akan berusaha mempersiapkan medan perang untuk konflik. Di era internet, itu berarti peretasan”, menurut Ken Geers pakar keamanan cyber.

Analisis lain menunjukkan bahwa jaringan komputer Korea Utara terisolasi dan rudal balistik tidak perlu terhubung dengan sistem darat karena begitu rudal diluncurkan, maka mengikuti lintasan yang telah ditentukan sebelumnya dengan sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada peluang gangguan elektronik.

Namun, mengingat tingkat keahlian AS dalam perang cyber, seperti yang sudah ditunjukkan pada program nuklir Iran dengan menggunakan virus komputer Stuxnet yang menghentikan reaktor nuklir sentrifugal Iran.

Alasan lain bisa jadi karena adanya sabotase pada program rudal Korea Utara. Sekutu paling dekat AS disana, Korea Selatan dikatakan telah melakukan intrusi ke dalam jaringan militer Korea Utara melalui para pembelot.

Di masa lalu, Pyongyang mengatakan akan mengalahkan jaringan mata-mata negara boneka Amerika Serikat yaitu Korea Selatan untuk melakukan operasi di dalam wilayahnya.

Program rudal Korea Utara tersebut disebutkan telah dibantu oleh pemerintah China, ketika hubungan kedua negara lebih erat dari sekarang. Namun, menurut Global Times pekan lalu bahwa kegagalan uji rudal Korea Utara menunjukkan bahwa teknologi rudal negara tersebut belum matang dan bahwa kendaraan peluncur rudal yang diarak pada parade Hari Matahari belum lama ini kemungkinan besar hanyalah sebuah “model”.