Perang Suriah : Semua Pasukan Ditarik dari Zona Damai

Sistem pertahanan rudal S-400 Rusia di Latakia, Suriah. (© Sputnik News)

Damaskus – Menteri Luar Negeri Suriah Walid Al-Moallem 8/5/2017 mengatakan tidak akan ada pasukan internasional di zona penurunan ketegangan, yang baru disepakati, di Suriah.

“Tak ada peran PBB atau negara internasional di daerah ini … Pihak Rusia menjelaskan bahwa hanya polisi militer (asing) akan ditempatkan, dan pusat pemantauan akan didirikan,” ujar Al-Moallem.

Ia mengatakan negaranya menentang kehadiran pasukan asing, yang menjadi pendukung gerilyawan, dan menyatakan Rusia berada di pihak yang sama dengan Damaskus mengenai itu.

Ketika berbicara lebih lanjut mengenai kesepakatan itu, yang perincian lengkapnya belum disiarkan, menteri tersebut mengatakan tidak akan ada pasukan internasional di bawah pengawasan PBB di zona itu, yang ditetapkan di Provinsi Idlib di bagian barat-laut Suriah, pinggiran Provinsi Homs, pinggiran Ghouta Timur di Ibu Kota Suriah, Damaskus, dan di daerah di Provinsi Daraa serta Qunaitera di bagian selatannya.

Al-Moallem juga mengatakan pemerintahnya akan mematuhi kesepakatan zona penurunan ketegangan, tapi memperingatkan setiap pelanggaran oleh gerilyawan akan dibalas.

Di dalam satu taklimat, Al-Moallem mengatakan pemerintahnya berharap kelompok oposisi bersenjata akan mematuhi kesepakatan tersebut, yang dituntaskan oleh Rusia, Iran dan Turki -yang menghasilkan pembentukan empat zona penurunan ketegangan di Suriah.

“Kami berkomitmen pada kesepakatan itu, tapi akan ada reaksi tegas dalam kasus pelanggaran oleh kelompok bersenjata,” ujar menteri tersebut.

Ia menyatakan penjamin gerilyawan akan bertanggung-jawab atas pelanggaran oleh gerilyawan.

Al-Moallem menegaskan keinginan Pemerintah Suriah mengenai keutuhan Suriah, dan menanggapi pernyataan oleh kelompok oposisi di pengasingan bahwa pembentukan zona penurunan ketegangan ata zona aman, dapat menjadi dalih untuk memecah Suriah.

“Kami memiliki keinginan mengenai keutuhan nasional, dan persatuan Suriah serta kebijakannya, berkat keteguhan rakyat kami, dan keberanian tentara kami,” katanya.

Ia menyatakan kerangka-waktu kesepakatan itu adalah enam bulan dan kemajuannya akan dinilai.

Mengenai nasib Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Al-Qaida dan dikeluarkan dari kesepakatan tersebut, Al-Moallem mengatakan gerilyawan di zona penurunan ketegangan diharuskan memisahkan diri dari Front An-Nusra dan kelompok IS.

“Front An-Nusra harus meninggalkan daerah itu dan menjalani hidup mereka, saya tidak tahu bagaimana nasib mereka, tapi yang pasti jika mereka datang ke daerah pemerintah, mereka takkan diterima,” kata menteri tersebut.

Mengenai komentar Jordania bahwa mereka akan masuk ke dalam wilayah Suriah untuk melindungi perbatasan mereka jika perlu, Al-Moallem memperingatkan kalau tentara Jordania memasuki Suriah tanpa koordinasi, mereka akan dipandang sebagai pasukan musuh dan dihadapi.

Ia juga mengataikan tujuan tentara dan rakyat Suriah ialah membebaskan setiap jengkal tanah Suriah, serta menyatakan kesepakatan zona penurunan ketegangan takkan mempengaruhi prospek persatuan Suriah.

Antara/Xinhua-OANA