Wew, Harga Minyak Menguat Tajam, Alutsista Bakal Nambah ?

Sukhoi Su-35 salah satu kandidat pengganti F-5 Tiger II TNI AU (photo : Oleg Belyakov / commons.wikimedia.org)

New York – Harga minyak dunia berbalik naik atau “rebound” dengan kuat pada (Kamis pagi WIB / 11/5/2017), karena data resmi menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS minggu lalu turun lebih besar dari yang diperkirakan.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan mingguanny, persediaan minyak mentah AS turun sebesar 5,2 juta barel pekan lalu, merupakan penurunan satu minggu terbesar dalam persediaan AS sejauh tahun ini.

Namun demikian, beberapa analis mempertanyakan apakah reli tajam setelah data EIA itu akan berlanjut, di tengah bertahannya kekhawatiran mengenai kenaikan produksi minyak mentah dari Amerika Serikat.

EIA memproyeksikan pada Selasa (9/5/2017) bahwa produksi minyak mentah AS diperkirakan mencapai rata-rata 9,3 juta barel per hari pada 2017 dan hampir 10,0 juta barel per hari pada 2018.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, melonjak 1,45 dolar AS menjadi menetap di 47,33 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, naik 1,49 dolar AS menjadi ditutup pada 50,22 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Tambah Menguat di Hari Jumat

Harga minyak dunia terus menguat pada Jumat pagi WIB/ 12/5/2017), karena para investor terus menyoroti penarikan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 0,50 dolar AS menjadi menetap di 47,83 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, bertambah 0,55 dolar AS menjadi ditutup pada 50,77 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Persediaan minyak mentah AS turun sebesar 5,2 juta barel pekan lalu, mencatat penurunan satu minggu terbesar dalam persediaan AS sejauh tahun ini, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada Rabu (10/5/2017).

Sementara itu, Irak dan Aljazair dilaporkan pada Kamis (11/5) mengatakan bahwa mereka mendukung perpanjangan kesepakatan pemotongan produksi minyak mentah.

Sebagian besar analis memperkirakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak non-OPEC akan memperpanjang kesepakatan sampai setidaknya akhir tahun, ketika mereka bertemu pada 25 Mei di Wina.

Di sisi lain, OPEC pada Kamis (11/5) melihat adanya tekanan dari peningkatan pasokan minyak mentah AS, sementara kartel tersebut sedang berusaha menyeimbangkan kembali pasar minyak dengan memotong produksi minyak.

“Tekanan terus terjadi dari ketidakseimbangan ‘bearish’ dalam kondisi-kondisi pasar minyak, akibat kenaikan pasokan minyak mentah AS dan penarikan persediaan yang lebih rendah dari yang diperkirakan,” OPEC mengatakan dalam laporan bulanannya.

OPEC mencatat harga minyak berada di bawah tekanan dari pasokan yang lebih tinggi dan penyeimbangan kembali pasar yang lebih lambat dari perkiraan.

OPEC memutuskan untuk memangkas produksi minyak pada musim dingin lalu dalam kerja sama dengan produsen-produsen minyak lainnya untuk meningkatkan harga minyak yang lemah.

Namun demikian, pemotongan produksi itu tampaknya memiliki dampak terbatas pada harga minyak, karena AS terus meningkatkan produksi minyaknya, terutama produksi minyak serpih.

Kartel juga meningkatkan estimasi produksi minyak dari produsen-produsen non-OPEC, memperkirakan produksi dari para pesaingnya akan meningkat sebesar 950.000 barel per hari pada 2017, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 370.000 barel.

Anggota OPEC akan bertemu bulan ini di Wina untuk memutuskan apakah kartel tersebut akan memperpanjang pemotongan produksi minyak mentah mereka.

Anggaran Pertahanan

Pada tahun 2015 pemerintah sempat hendak melipatgandakan anggaran pertahanan Indonesia pada 2016 jika ekonomi tumbuh sebesar 7 persen. Tetapi dengan pertumbuhan ekonomi yang tergelincir, ditambah melemahnya rupiah terhadap dolar AS, rencana tersebut tertunda.

Tadinya pemerintah mencoba membuat gebrakan untuk meningkatkan angka 1,5 persen dari PDB, menjadi dua kali lipat anggaran pada tahun 2016, agar Indonesia bisa mengembangkan Kekuatan Minimum Essential pada tahun 2024.

Kini pertanyaannya, apakah dengan kenaikan harga minyak ini, proyeksi pemerintah untuk mengejar Kekuatan Minimum Essential pada tahun 2024, dapat tercapai ?

Antara/Xinhua dan TheDiplomat.com / Prashanth Parameswaran