Amerika Akan Memastikan Keunggulan Teknologi Atas Senjata Hipersonik China dan Rusia

Hypersonic Technology Vehicle 2 (HTV-2) Falcon buatan Lockheed Martin dapat melaju pada kecepatan 20 Mach. © USAF

Angkatan Udara AS (US Air Force) akan mempercepat pengembangan pesawat dan senjata hipersonik, termasuk yang bisa membawa hulu ledak nuklir yaitu Hypersonic Glide Vehicle (HGV) untuk mempertahankan pengaruhnya yang kian terkikis oleh China dan Rusia dalam medan perang tempur yang kritis ini, seperti dilansir dari China Topix.

Para pimpinan senior Angkatan Udara AS, minggu lalu telah melaksanakan pertemuan untuk mempercepat penelitian dan pengembangan hipersonik tersebut untuk memastikan agar AS dapat terus mempertahankan keunggulan teknologi.

Hipersonik mengacu pada lima kali kecepatan suara, yaitu dengan kecepatan 6.000 km/jam atau lebih yang juga dikenal dengan 5 Mach. Bagi Angkatan Udara AS, hipersonik ini adalah kemampuan untuk mengubah permainan yang mampu meningkatkan kecepatan, jangkauan, fleksibilitas dan ketepatan pesawat ataupun senjata.

“Kita harus mendorong batas-batas teknologi di setiap daerah. Musuh kita tidak berdiam diri, mereka akan mencari setiap keuntungan yang bisa mereka dapatkan”, kata Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal David L. Goldfein.

Sebuah studi yang telah dilakukan oleh Angkatan Udara AS mengakui bahwasanya China dan Rusia sudah menguji penerbangan senjata-senjata hipersonik.

“Kita akan mempercepat penelitian di bidang ini. Manfaat teknologi ini untuk pertahanan bangsa kita sangat beragam, mulai dari kemampuan menyerang hingga sistem pertahanan. Ini merupakan prioritas tinggi bagi Angkatan Udara AS”, kata Sekretaris Angkatan Udara AS, Lisa S. Disbrow.

Angkatan udara juga telah meletakkan dasar untuk usaha terkoordinasi jangka panjang dalam konsep kebijakan, operasional, usaha sains dan teknologi, akuisisi, dan uji dan evaluasi.

Meskipun telah ada terobosan yang dibuat oleh China dan Rusia, Amerika Serikat akan tetap menjadi jawara dalam pengembangan senjata hipersonik dan akan menyiram banyak uang ke dalam serangkaian proyek bernilai jutaan dolar.

Pentagon memberikan banyak uang untuk penelitian hipersonik dengan tujuan membangun rudal hipersonik yang mampu meluncur menuju sasaran yang sangat jauh dengan kecepatan antara 5 – 20 Mach (25.000 km/jam). Pendanaan untuk penelitian hipersonik telah melonjak 50% dalam permintaan anggaran Departemen Pertahanan di tahun fiskal 2017 ini.

Angkatan Udara AS berencana untuk menguji rudal hipersonik pada tahun 2020 nanti.

Beberapa program hipersonik tersebut misalnya Pentagon mendanai program Falcon yakni Hypersonic Technology Vehicle 2 (HTV-2) buatan Lockheed Martin, program Hypersonic Air-breathing Weapon Concept (HAWC) buatan Raytheon dan program Tactical Boost Glide (TBG) hasil kerjasama Raytheon dan Lockheed Martin.