China Mulai Menyebar Pesawat Pengintai Baru di LCS

Pesawat AEW&C Shaanxi KJ-500 Angkatan Udara China. © AirTeamImages.com

China telah memperluas operasi pengintaian dan pemantauannya di Laut China Selatan (LCS) dengan menyertakan penyebaran sistem Airborne Early Warning and Control atau AEW&C yang telah dilengkapi dengan radar baru, seperti dilansir dari Sputnik News.

Pesawat AEW&C KJ-500 belum lama ini telah bergabung dengan pesawat patroli yang lebih tua di Pangkalan Udara Jialaishi di Pulau Hainan, provinsi China yang terletak paling selatan dan berada paling mencolok di Laut China Selatan yang disengketakan, menurut citra satelit dari DigitalGlobe.

“KJ-500 bisa memantau pergerakan hingga 60 pesawat dalam radius 470 km”, berdasarkan informasi dari Shaanxi Aircraft Corporation (SAC). Seperti perbandingan J-20 dengan F-35, pesawat KJ-500 dilaporkan terlihat sangat mirip seperti pesawat peringatan dini buatan AS, sebabnya adalah kubah radar dipasang pada bagian atas bodi pesawat.

Radar tersebut dipergunakan untuk misi pengawasan, pengintaian dan pengumpulan intelijen secara umum, sesuai dengan rancangan pesawat itu dibuat. Kemampuan tersebut dapat lebih berguna di Laut China Selatan, di mana banyak negara mengklaim berdasar hak para leluhur atau teritorial ke pulau-pulau, terumbu karang serta gugusan karang yang berbeda.

Penyebaran pesawat baru tersebut (KJ-500) ke pangkalan angkatan udara di Hainan adalah sebagai yang pertama. Sejumlah gambar baru saja dirilis, tapi berdasarkan catatan yang ada menunjukkan bahwa pendaratan KJ-500 berlangsung hingga akhir Maret 2017.

AS belum pasang badan dalam perselisihan teritorial antara China, Filipina dan juga Taiwan, meskipun Filipina adalah sekutu militer AS, menurut Council on Foreign Relations (CFR) AS. Menteri Luar Negeri AS menyebut bahwa pembangunan China di kepulauan Spratly sebagai pengambilan wilayah yang disengketakan secara ilegal tanpa memperhatikan norma-norma internasional.

Pada bulan Juli 2016 lalu, pengadilan internasional di Den Haag memberi keputusan bahwa Beijing tidak memiliki klaim yang sah atas pulau-pulau di Spratly serta menolak konstruksi pulau buatan oleh China.