Duterte: “Saya Tak Pernah Minta Bantuan AS”

Presiden Filipina Rodrigo Duterte © Inquirer News

Setelah kedutaan AS pada hari Sabtu mengumumkan bahwa Pasukan Khusus Pentagon akan memberi dukungan logistik militer non-tempur kepada Angkatan Darat Filipina yang sedang putus asa dalam pertempuran melawan milisi ekstremis di selatan negara tersebut, Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada hari Minggu mengklaim bahwa dia tak minta bantuan, seperti dilansir dari Sputnik News..

“Presiden Duterte berkata kepada wartawan bahwa dia tak pernah mendekati Amerika untuk mendapatkan bantuan militer dan tak menyadarinya sampai mereka tiba”, menurut laporan Reuters.

Militer Filipine sedang berjuang untuk mengusir pemberontakan bersenjata yang bersekutu dengan ISIS sejak tanggal 23 Mei di sebelah selatan pulau Mindanao yang luas.

Duterte telah menolak aliansi jangka panjang antara Washington-Manila, sehingga menyebut mantan presiden AS Barack Obama sebagai “anak pelacur”, dan berjanji menutup pangkalan militer AS di negara tersebut, dia juga mengklaim bahwa Rusia dan China akan menyediakan bantuan militer dan keuangan yang dibutuhkan Filipina.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana Pasukan Khusus AS mendapatkan otorisasi untuk bergabung dalam pertempuran tersebut, kemungkinan pihak militer Filipina yang meminta bantuan dan melakukannya tanpa sepengetahuan Presiden Duterte.

Juru bicara militer Filipina menegaskan bahwa pada hari Sabtu bahwa pasukan AS memberi dukungan logistik dan pengintaian, namun mereka tidak ikut berperang disana, jelas Reuters mengkonfirmasi pernyataan Pentagon mengenai keterlibatan pasukan AS dalam peperangan tersebut berdasar informasi pejabat yang minta tak disebutkan namanya.

Sebuah pernyataan dari pemerintah Filipina, bahwa militer Amerika Serikat dilarang terlibat dalam pertempuran, namun menambahkan bahwa pertarunga melawan terorisme tak hanya menjadi perhatian Filipina atau Amerika Serikat namun juga menjadi perhatian dari banyak negara di seluruh dunia.

“Filipina terbuka untuk menerima bantuan dari negara lain apabila mereka menawarkannya”, sebut pernyataan yang dikutip oleh Reuters.

Presiden Duterte mengumumkan darurat militer di Mindanao setelah milisi yang bersekutu dengan ISIS merebut kota Marawi. Presiden Filipina mengklaim bahwa dengan menerapkan darurat militer dia dapat mengendalikan militer negara tersebut.

Namun presiden Filipina tersebut tak berkomentar mengenai kemungkinan pejabat militer Filipina telah melampaui kewewenangnya untuk meminta bantuan dari Pasukan Khusus AS, namun ia cuma menyebut bahwa, “militer kita pro-Amerika, saya tak bisa menyangkalnya”.

Sejauh ini, dilaporkan sekitar 300 orang telah tewas dalam pertempuran, termasuk miiter Filipina, warga sipil dan para pemberontak. Diperkirakan 250.000 orang telah mengungsi sejak pertempuran berlangsung.