AS : Melakukan Lagi Serangan Kimia, Assad Membayar Harga Mahal

Citra satelit Pangkalan Udara Shayrat, Homs,Suriah, yang diserang rudal jelajah Tomahawk AS dari kapal perusak di sebelah timur laut Mediterania karena disangkakan menggunakan senjata kimia, 6 April 2017 © DigitalGlobe

Washington – Gedung Putih mengatakan 26/6/2017 waktu setempat, tampaknya pemerintah Suriah sedang mempersiapkan serangan senjata kimia lain dan memperingatkan Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa dia dan militernya akan “membayar harga mahal” jika melakukan serangan semacam itu.

Pernyataan Gedung Putih mengatakan persiapan yang dilakukan oleh Suriah mirip dengan yang dilakukan sebelum serangan kimia 4 April lalu, yang menewaskan puluhan warga sipil dan mendorong Presiden Donald Trump memerintahkan serangan peluru kendali jelajah terhadap sebuah pangkalan udara Suriah.

Trump memerintahkan serangan terhadap pangkalan udara Shayrat di Suriah pada April lalu sebagai aksi tanggapan atas apa yang Washington sebut sebagai serangan gas beracun yang dilancarkan oleh pemerintah Bashar. Serangan itu menewaskan sedikitnya 70 orang di wilayah yang dikuasai pemberontak. Suriah membantah melakukan serangan tersebut.

Serangan itu merupakan tindakan langsung AS yang paling sulit dilakukan dalam perang sipil enam tahun Suriah, meningkatkan risiko konfrontasi dengan Rusia dan Iran, dua militer utama pendukung Bashar.

Pejabat AS pada saat itu menyebut intervensinya sebagai tindakan “sekali habis” yang dimaksudkan untuk mencegah serangan senjata kimia di waktu mendatang dan bukan merupakan peningkatan peran AS dalam perang Suriah.

Amerika Serikat telah mengambil serangkaian tindakan di atas dalam tiga bulan belakangan, menunjukkan kesediaannya untuk melaksanakan serangan, kebanyakan untuk membela diri, melawan kekuatan pemerintah Suriah dan pendukung mereka, termasuk Iran.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Nikki Haley mengatakan dalam akun Twitternya: “Serangan lanjutan yang dilakukan terhadap warga Suriah akan disalahkan pada Bashar, dan juga pada Rusia dan Iran yang mendukungnya membunuh bangsanya sendiri,” ujar Nikki.

Sejak serangan militer pada April, Washington berulang kali menyerang petempur yang didukung Iran dan bahkan menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang mengancam pasukan gabungan pimpinan AS. Militer AS juga menembaki sebuah jet Suriah awal bulan ini.

Trump juga telah memerintahkan peningkatan operasi militer melawan kelompok petempur IS dan mendelegasikan lebih banyak wewenang kepada para jenderalnya.

Antara/Reuters