123 Tentara Venezuela Ditangkap

Tentara Venezuela (Xinhua/Zurimar Campos/AVN)

Karakas – Sedikitnya 123 anggota Pasukan Angkatan Bersenjata Venezuela telah ditahan sejak kerusuhan anti-pemerintah meletus pada April 2017, menurut dokumen militer yang dilihat oleh Reuters, 6/7/2017. Mereka dituduh melakukan tindak pengkhianatan, pemberontakan, pencurian, hingga pembelotan,

Dokumen-dokumen itu mengidentifikasi tahanan bersama dengan pangkat mereka. Ada yang kapten, sersan, letnan dan tentara reguler yang terdaftar di tiga penjara di berbagai wilayah di Venezuela.

Mereka meliputi petugas dan prajurit jajaran Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Garda Nasional. Kejadian ini memberikan gambaran yang jelas mengenai ketidakpuasan dan selisih pendapat dalam tubuh militer Venezuela yang memiliki pasukan berjumlah 150.000 orang.

Menurut catatan tersebut, para tahanan ditempatkan di 3 penjara Venezuela. Sejak April 2017 hampir 30 anggota militer telah ditahan karena membelot atau meninggalkan pos, serta hampir 40 anggota ditahan karena melakukan pemberontakan, pengkhianatan serta pembangkangan.

Sisanya, sebagian besar yang tahanan dituntut atas tindak pencurian.

Tiga letnan telah melarikan diri ke Kolombia dan meminta suaka pada bulan Mei. Seorang pria yang mengaku sersan Angkatan Laut Venezuela muncul dalam sebuah video yang diterbitkan media lokal bulan lalu. Pria itu mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan pemerintah dan mendesak rekan-rekannya untuk tidak menaati atasan yang telah “korup” dan “menyelewengkan” kekuasaan.

Kekacauan politik di Venezuela telah menyebabkan jutaan warga menderita kelaparan dan didera melonjaknya inflasi karena krisis ekonomi yang parah. Bahkan di tubuh Angkatan Bersenjata, gaji dimulai dengan upah minimum, sekitar USD 12,5 per bulan sesuai harga bursa pasar gelap. Bahkan sejumlah anggota militer mengaku dibayar kurang dari yang seharusnya, sehingga mereka kini kekurangan uang.

Sejak oposisi mulai melakukan demonstrasi tiga bulan lalu, beberapa pejabat keamanan, mulai menunjukkan ketidakpuasan mereka, di depan publik. Seorang Polisi dan bintang film Oscar Perez memimpin serangan ke bangunan Kementerian Daalam Negeri dan Mahkamah Agung dan mengaku sebagai unsur pasukan bersenjata yang menentang pemerintahan Maduro.

“Kami sepenuhnya sadar dengan apa yang kami lakukan dan jika kami harus menyerahkan hidup kami, kami akan menyerahkannya kepada rakyat,” ujar Perez, saat itu duduk di depan sebuah bendera Venezuela dan senapan.

Dari dokumen militer yang dilihat oleh Reuters, terlihat pernyataan para pemimpin oposisi bahwa kemarahan dan perbedaan pendapat di antara militer akibat kesulitan ekonomi yang semakin meluas.

“Ini menunjukkan ketidakpuasan, rendahnya semangat serta kebutuhan ekonomi, “ujar mantan Jenderal Tentara yang tidak mau disebukant namanya.

Kementerian Pertahanan dan Informasi Venezuela tidak mau menanggapi saat diminta komentarnya.

Venezuela memandang Angkatan Bersenjata sebagai kunci pertahanan di negara mereka. Pemimpin oposisi berulang kali mendesak pemimpin militer untuk berpaling dari Presiden Nicolas Maduro.

Maduro mengatakan dia merupakan korban sebuah “pemberontakan bersenjata” oleh lawannya dengan dukungan AS, yang berusaha mendapatkan kendali atas kekayaan minyak negara OPEC, Venezuela.

Garda Nasional berada di garis terdepan dalam menjaga tindakan unjuk rasa di seluruh negeri Venezuela. Garda Nasional menggunakan gas air mata, meriam air dan peluru karet dalam melawan pemuda bertopeng yang  melemparkan batu, bom molotov serta kotoran ke arah Garda Nasional. Sedikitnya 90 orang tewas sejak bulan April 2017.

Garda Nasional kini telah kelelahan, miskin dan kelaparan. Sebagian besar berlaku pasif selama unjuk rasa dan mengelak ikut percakapan dengan wartawan.

Tinggalkan komentar