The Last Battle of ISIS in Raqqa

Marinir AS berikan bantuan tembakan artileri 24 jam ke Syrian Democratic Forces di Raqqa, 27/7/2017 (United States Marine Corps)

Washington – Sekitar 2.000 Pasukan Tempur ISIS diperkirakan tinggal di Kota Raqqa, Suriah, dan bertahan hidup dalam menghadapi serangan ofensif Pasukan Demokratik Suriah yang didukung Amerika Serikat, menurut pejabat senior AS, Jumat 4 Agustus 2017.

Brett McGurk, utusan khusus AS untuk koalisi melawan ISIS, mengatakan Pasukan Demokratik Suriah sudah membersihkan sekitar 45 persen wilayah Raqqa sejak melancarkan serangan di awal Juni 2017 untuk merebut benteng ISIS di wilayah bagian Utara Suriah.

“Hari ini di Raqqa, ISIS bertahan untuk setiap blok terakhirnya dan bertahan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri,” kata McGurk kepada wartawan.

“Beberapa dari 2.000 orang Pasukan Tempur meninggalkan kota dan kemungkinan besar tewas di Raqqa,” jelas Brett McGurk.

Serangan terhadap Raqqa bertepatan dengan tahap akhir kampanye untuk mengusir ISIS dari Mosul, Irak, dimana Pasukan Tempur ISIS dikalahkan bulan lalu.

Pengepungan ISIS di Raqqa (MrPenguin20)

Brett McGurk mengatakan ISIS sudah kehilangan 70.0000 kilometer persegi dari wilayah yang pernah dipunyai di 2 negara, 78 persen yang mereka ambil dari Irak, dan 59 persen dari yang mereka kuasai di Suriah.

Sebelum tiap operasi Militer, pasukan koalisi mengelilingi daerah yang ditargetkan untuk memastikan Pasukan Tempur ISIS dari luar negeri tidak dapat melarikan diri dan keluar dari Irak dan Suriah.

Bekerja sama baik dengan pasukan Turki, seluruh perbatasan Suriah-Turki ditutup dan ISIS tidak dapat lagi mengirim Pasukan Tempur yang dilatih di Suriah untuk melaksanakan serangan di Eropa dan dimanapun, tutur Brett McGurk.

Koalisi tersebut sudah mengumpulkan database dari hampir 19.000 nama Pasukan Tempur ISIS yang dikumpulkan dari ponsel, buku alamat, dan dokumen lainnya yang ditemukan di medan perang, yang dibagikan dengan badan kepolisian internasional Interpol, ujar Brett McGurk.

ISIS juga memerangi pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung kekuatan Udara Rusia dan milisi yang didukung Iran.

Bantuan tembakan artileri US Marine Corps untuk Syrian Democratic Forces dalam perang di Raqqa, 21/7/2017 (United States Marine Corps)

Brett McGurk mengatakan pengaturan “dekonfliksi” antara Militer AS dan Militer Rusia sudah berusaha menghindari kecelakaan sewaktu mereka beroperasi secara terpisah di Suriah dengan baik, meski hubungan diplomatik antara kedua negara itu memburuk.

Presiden Donald Trump mengatakan bahwa hubungan AS dengan Rusia berada pada titik terendah sepanjang masa dan sangat berbahaya, sedangkan Rusia mengatakan sanksi baru yang diberlakukan Washington berarti berakhirnya harapan akan ada hubungan yang lebih baik dengan urusan pemerintah Trump.

“Tetapi sejauh ini kami belum melihat dampak dari hubungan kami dengan Rusia dalam hal Suriah,” tutup McGurk. Antara/Reuters

Sharing

Tinggalkan komentar