Ancaman Militer AS ke Venezuela Ditentang Amerika Latin

Presiden Venezuela Nicola Maduro (Commons.wikipedia.org)

Karakas/Lima – Amerika Latin muncul dengan kekuatan pada Jumat 11-8-2017 untuk menentang Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengancam bahwa AS akan menggunakan aksi Militer kepada Venezuela, negara yang sedang dilanda krisis, sesudah berbulan-bulan menyerang Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Sikap semakin keras yang tiba-tiba ditunjukkan oleh Washington terhadap krisis Venezuela itu timbul menjelang rangkaian lawatan yang akan mulai dilakukan Wakil Presiden AS Mike Pence pada Minggu 13-8-2017 ke kawasan Amerika Latin. Mike Pence dijadwalkan berkunjung ke Kolombia, Argentina, Chile dan Panama.

Trump tidak menjelaskan opsi-opsi apa yang dikehendakinya.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino pada Jumat 11-8-2017 meremehkan peringatan Trump itu sebagai “kegilaan” sementara Menteri Luar Negeri Jorge Arreaza mengatakan, pada Sabtu 12-8-2017, Venezuela menentang ancaman yang “penuh dengan rasa permusuhan” itu dan mendesak Amerika Latin untuk bersatu menghadapi Washington.

“Kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas semua pernyataan solidaritas dan penentangan terhadap penggunaan kekuatan dari pemerintah negara-negara di seluruh dunia, termasuk kawasan Amerika Latin,” ujar Arreaza sewaktu menyampaikan pidato singkat, pada Sabtu 12-8-2017.

“Beberapa dari negara-negara ini sudah mengambil sikap yang benar-benar berlawanan dengan kedaulatan dan kemerdekaan kita tetapi mereka (ternyata) masih (mau) menentang pernyataan presiden AS.” Adalah Peru, salah satu pengkritik paling keras terhadap Nicolas Maduro, yang memimpin gerakan untuk mengecam ancaman Trump. Peru menganggap ancaman tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-bangsa. Meksiko dan Kolombia bergabung menyatakan sikap dengan mengeluarkan pernyataan sendiri.

Persekutuan kawasan, Mercosure, menambahkan bahwa pihaknya menentang penggunaan kekuatan terhadap Venezuela kendati mereka minggu yang lalu sudah menskors negara itu di tengah kecaman internasional terkait majelis baru sangat berkuasa yang dibentuk Nicola Maduro.

Sesudah 4 bulan aksi unjuk rasa maut berlangsung dalam menentang pemerintahannya, Nicolas Maduro mengatakan pembentukan majelis itu adalah harapan satu-satunya bagi Venezuela untuk mewujudkan perdamaian dengan menerapkan kebijakan-kebijakan mentor dan pendahulunya, mendiang Hugo Chavez.

Partai Sosialis yang berkuasa sudah bertahun-tahun menuduh Amerika Serikat berencana melakukan serbuan sebagai jalan untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan terbesar di dunia, melalui serangan militer yang sama dengan perang Irak. Antara/Reuters.

Sharing

Tinggalkan komentar