Kecelakaan Pesawat F-18 dan Persoalan yang Mendera

F-18 Angkatan Laut AS mengalami kecelakaan di Bahrain, 12/8/2017 (Voice Of People)

Sebuah pesawat tempur Angkatan Laut AS F-18 Super Hornet mengalami kecelakaan dan mendarat di Bahrain, 12/8/2017 setelah terbang dari USS Nimitz, sebuah kapal induk yang dikerahkan di Teluk Persia.

Cmdr. Bill Urban, juru bicara Armada Angkatan Laut yang bermarkas di Bahrain, mengatakan pilot ejected setelah mendarat dan “tidak terluka.”

Segera setelah lepas landas, pesawat F-18 mengalami masalah mesin dan pilot tersebut mencoba mengalihkannya ke Sheikh Isa Air Base di Bahrain. Namun, pesawat tidak dapat melakukannya dan malah mendarat di bandara komersial pulau itu, kata Cmdr. Bill Urban.

“Karena kerusakan, pesawat tidak bisa berhenti di landasan pacu dan pilot ejected dari pesawat saat pesawat lepas landas,” katanya.

Cmdr Urban mengatakan, kecelakaan ini sedang dalam penyelidikan dan Angkatan Laut membantu membuka kembali landasan pacu sehingga bandara tersebut dapat melanjutkan operasi normal.

Kecelakaan ini terjadi setelah sebelumnya pada bulan Juli, skadron jet tempur Angkatan Laut AS di kapal USS George HW Bush digrounded karena ada pesawat yang mengalami masalah.

Satu hari kemudian Korps Marinir AS mengumumkan bahwa mereka menggrounded seluruh armada pesawat selama satu hari, setelah dua kecelakaan mematikan dalam beberapa minggu terakhir yang menewaskan 19 orang.

Dalam episode yang sebelumnya tidak dilaporkan, untuk pertama kalinya dalam perang tiga tahun melawan ISIS, skadron tempur Angkatan Laut AS digrounded selama seminggu di atas kapal USS George H.W. Bush dari 12-19 Juli. Saat pasukan AS mendukung Free Syrian Army dalam berperang melawan ISIS di Suriah, Angkatan Laut AS terpaksa mengrounded 10 jet tempur F/A-18 di VFA-37, setelah dua pilot yang menerbangkan model lama F-18C Hornets jatuh sakit dengan penyakit dekompresi, sebuah masalah lama yakni tekanan kabin jet.

Kedua pilot tersebut membutuhkan perawatan di mesin seperti dekompresi.

USS George H.W. Bush adalah kapal induk pertama yang membawa chamber (ruang dekompresi) di atas kapal setelah lonjakan kasus dalam apa yang oleh Angkatan Laut disebut “episode fisiologis,” yang oleh banyak pejabat disalahkan karena menerbangkan pesawat yang sudah tua.

Setiap kapal induk yang ditempatkan di Angkatan Laut AS, sekarang membawa kamar dekompresi di atas kapal.

Juru bicara Angkatan Laut AS mengkonfirmasi soal grounded tersebut untuk Fox News.

“Pimpinan Penerbangan Angkatan Laut mengarahkan jeda operasional Skadron Strike Fighter (VFA-37) pada akhir jadwal penerbangan 12 Juli … jeda tersebut dicabut kembali pada 19 Juli,” kata Cmdr. Jeanette Groeneveld.

Cmdr. Groeneveld mengatakan bahwa “tidak ada dampak operasional” terhadap kemampuan kapal induk dalam mendukung peperangan melawan ISIS di Suriah, di mana sebagian besar serangan dilakukan sekarang. Dia mencatat bahwa ada 34 pesawat tempur F-18 Super Hornets yang lebih maju lainnya, yang tetap beroperasi di antara tiga skadron tempur fighter lainnya di Air Wing kapal induk tersebut.

Kepala Angkatan Laut Angkatan Laut, Adm John M. Richardson, baru-baru ini memutuskan untuk mempercepat pensiunnya model awal pesawat F-18, mulai bulan ini dengan satu skadron dan berakhir pada 2019, menurut pejabat Angkatan Laut.

Korps Marinir AS secara eksklusif menerbangkan model F-18A-D Hornets yang lebih tua, yang telah lama menderita karena kurangnya suku cadang. Saat ini, sekitar 70 persen F-18 Korps Marinir tidak bisa terbang. Sekitar setengahnya yang memiliki kemampuan penuh, pada saat ini.

F-18 awalnya dirancang untuk 6.000 jam terbang. Pemotongan anggaran dan penundaan Joint Strike Fighter F-35B memaksa Korps Marinir dan Angkatan Laut untuk terus menerbangkannya. Sebagian besar jet F-18 USMC diperpanjang operasiionalnya hingga 10.000 jam terbang. Dirilis FoxNews.com, 12/8/2017.

Tinggalkan komentar