Korsel :Teknologi Rudal Antarbenua Korea Utara, Belum Matang

Ujicoba rudal Hwaesong 14 Korea Utara tahun 2014 (KCNA)

Seoul/Beijing – Korea Utara belum sepenuhnya menguasai teknologi peluru kendali antarbenua dan butuh waktu sedikitnya satu atau dua tahun tambahan, meski kemampuan Korea Utara memasang hulu ledak nuklir berkembang sangat cepat, ujar wakil menteri pertahanan Korea Selatan.

Yang belum dikuasai Pyongyang adalah teknologi melindungi peluru kendali saat senjata memasuki kembali atmosfer setelah terbang ke luar angkasa.

Kekhawatiran akan keberhasilan Korea Utara dalam mengembangkan peluru kendali nuklir, yang mampu menyasar daratan Amerika Serikat, memicu ketegangan kawasan dalam beberapa bulan belakangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengancam menyiagakan pasukannya jika Korea Utara melakukan tindakan gegabah.

“Baik Amerika Serikat maupun Korea Selatan belum yakin Korea utara telah menguasai teknologi bahan-bahan material dalam fase masuk kembali ke atmosfer,” ujar Wakil Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Coo-suk, 13/8/2017, yang dirilis Reuters/Antara.

“Kami merasa mereka belum mencapai tahap itu, namun hampir menguasainya. Kami tidak bisa memastikan kapan, tapi setidaknya butuh waktu satu atau dua tahun lagi,” katanya.

Suh mengatakan Korea Utara akan terus melakukan provokasi, termasuk di antaranya uji nuklir. Namun demikian dia tidak melihat ancaman serangan dari negara tetangganya tersebut.

Sementara itu, Direktur badan intelejen Amerika Serikat, CIA, Mike Pompeo, sepakat bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akan kembali menggelar uji coba senjata.

“Saya yakin dia akan terus mengembangkan program rudal, jadi tidak akan mengejutkan jika ada uji coba lagi,” ujar Pompeo kepada “Fox Sunday News”.

“Saya mendengar percakapan soal kemungkinan perang nuklir. Tapi saya tidak menerima laporan intelejen yang mengindikasikan hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat,” katanya.

Korea Utara akhir-akhir ini terus menggelar uji coba rudal. Pada pekan lalu Pyongyang bahkan mengancam akan mengirim senjata itu ke wilayah Amerika Serikat di Pasifik, Guam -yang berada tidak jauh dari Indonesia.

Ancaman itu ditanggapi Trump dengan meminta China yang merupakan sekutu utama Pyongyang, untuk bersikap lebih tegas terhadap tetangganya.

Kepala staf militer gabungan Amerika Serikat, Joseph Dunford, kini sedang mengunjungi Seoul untuk mendiskusikan ketegangan kawasan menjelang latihan militer bersama kedua negara yang dijadwalkan akan digelar pada akhir bulan ini.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Lee Jin-woo, mengatakan latihan bersama akan terus dilaksanakan sesuai dengan rencana, meski ditentang oleh tetangganya di Utara.

“Pelatihan itu sesuai dengan hukum dan akan berpusat pada pertahanan serta bagaimana meminimalisir provokasi dari Korea Utara,” ujarnya.

Sharing

Tinggalkan komentar