Jangan Ada Lagi Perang di Semenanjung Korea

Rudal Jelajah Hyunmoo-3, Korea Selatan yang dipamerkan 31/1/2017 (Teukwonjae707)

Seoul – Presiden Korea Selatan Moon Jae-in Senin, 14/8/2017 menyatakan tidak boleh ada perang di Semenanjung Korea dan meminta Korea Utara menghentikan perilaku mengancamnya saat ketegangan Pyongyang dengan Washington meningkat dengan mengisyaratkan tindakan militer.

“Tidak boleh ada lagi perang di Semenanjung Korea. Apapun pasang surut, yang kita hadapi, masalah nuklir Korea Utara harus diselesaikan dengan damai,” ujar Moon dalam sambutannya pada pertemuan tetap dengan pembantunya dan penasihat utama, yang disampaikan kantor kepresidenan Korea Selatan.

“Saya yakin, Amerika Serikat akan menanggapi keadaan saat ini dengan tenang dan bertanggung jawab, selaras dengan sikap kita,” ujarnya.

Sebelumnya, penasehat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington akan menggunakan “tindakan tepat” untuk melindungi AS dari ancaman Korea Utara, yang mengatakan mengembangkan rencana menembakkan roket ke dekat wilayah AS, Guam.

“Donald Trump tegas. Dia akan menggunakan tindakan tepat untuk melindungi Amerika Serikat dan warganya,” ujar Sebastian Gorka, wakil asisten Trump, kepada radio BBC.

“Kami tidak mengumumkan skenario masa depan kita dan cara kita akan menanggapi,” ujarnya, “Jika Anda menunjukkan pemain di sekitar meja tangan poker Anda, Anda akan kalah dalam permainan itu. Itu bukan pemikiran bagus dalam permainan kartu, itu sangat buruk dalam geopolitik”, lanjutnya.

Ketegangan meningkat sejak Korea Utara melakukan dua uji bom nuklir pada tahun lalu dan dua uji peluru kendali balistik antarbenua pada Juli. Trump mengatakan tidak akan mengizinkan Pyongyang mengembangkan senjata nuklir, yang mampu menyerang Amerika Serikat.

Korea Utara merencanakan peluncuran peluru kendali jarak menengah di wilayah Amerika Serikat di Guam pada pertengahan Agustus, ujar media pemerintah Korea Utara.

Laporan rinci mengenai serangan tersebut mengindikasikan ketegangan yang meningkat antara Pyongyang dan Washington, setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Korea Utara awal pekan ini dan pihak Korut akan menghadapi “kemarahan besar” jika Korea Utaramengancam AS.

Kantor berita Korea Utara KCNA menganggap ancaman Trump hanya omong kosong.

“Sepertinya dialog tidak mungkin dilakukan dengan orang yang kehilangan akal dan hanya kekuatan mutlak yang bisa menimpanya,” kujarnya tentang Trump.

Tentara Korea Utara sedang membangun rencana untuk menyerang kekuatan musuh di pangkalan militer utama di Guam dan untuk memberi sinyal peringatan ke AS, demikian laporan KCNA.

Guam berpenduduk sekitar 163 ribu orang, dan memiliki pangkalan militer AS yang terdiri atas skuadron kapal selam, pangkalan udara dan kelompok penjaga pantai.

Roket Hwasong-12 yang jika diluncurkan oleh Tentara Rakyat Korea (KPA) akan melintasi langit Shimane, Hiroshima dan Perfektur Koichi di Jepang, menurut laporan tersebut mengutip pernyataan komandan Pasukan Strategis KPA Kim Rak Gyom.

Roket akan terbang sejauh 3.356,7 kilometer pada 1,065 detik dan menyentuh perairan sejauh 30 hingga 40 kilometer dari Guam. Reuters/Antara.

Sharing

Tinggalkan komentar