Menristekdikti Dukung Fin Komodo Jadi Produk Andalan

Mobil FIN Komodo, kendaraan “off road” (commons.wikipedia.org)

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir mendukung kendaraan “off road” buatan Indonesia, Fin Komodo, menjadi produk andalan untuk transportasi pedesaan.

“Saya akan dukung jadi produk andalan pedesaan. Ini harus kita dorong terus, desa yang membangun pertanian, ini angkutan yang luar biasa,” kata Nasir dalam acara penganugerahan Penghargaan Teknologi BJ Habibie pada Selasa 15-8-2017 di Jakarta.

Kreator kendaraan Fin Komodo Ibnu Susilo diberikan Penghargaan Teknologi BJ Habibie sebab dinilai sudah menghadirkan inovasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

Fin Komodo adalah kendaraan 100 persen buatan dalam negeri yang dirancang untuk melalui lintasan non infrastruktur untuk menyambung akses antar daerah terpencil maupun kegunaan dalam kegiatan lainnya.

Menristekdikti menilai produk mobil “off road” buatan dalam negeri ini mempunyai pasar tersendiri yang di mana industri otomotif dunia tidak meliriknya.

Muhammad Nasir menilai, Fin Komodo mempunyai potensi yang sangat besar untuk dipasarkan di Indonesia. “‘Oportunity’ yang akan didapatkan luar biasa, kalau satu desa punya satu, potensialnya besar sekali,” ujarĀ  Muhammad Nasir pada Antara 15-8-2017.

Muhammad Nasir pun berjanji untuk memfasilitasi Fin Komodo untuk mendapatkan sertifikasi uji emisi untuk memenuhi standar Kementerian Perindustrian dan bisa digunakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

“Kalau kita bisa membangun 74 ribu desa, ini ‘market’ yang tidak bisa dimiliki orang lain,” ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir.

Mobil Fin Komodo (Verosaurus)

Habibie dan Inovasi

Presiden ketiga Indonesia BJ Habibie menekankan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu penentu kemajuan suatu negara.

“Ilmu pengetahuan menjadi modal penting untuk membuat suatu bangsa dan negara maju. Dengan ilmu, kualitas sumber daya manusia jadi terbarukan, lebih inovatif dan produktif,” kata BJ Habibie saat memberikan pidato kebangsaan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, 15/8/2017.

Menurut Habibie, manfaat lain dari penguatan SDM ini adalah adanya kemampuan bangsa untuk bersaing di ranah internasional.

“Tapi perlu juga didukung dengan kreativitas,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, Habibie sempat pula mengungkit soal Indonesia yang akan mendapatkan bonus demografi pada 2020, yang mana jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) akan mencapai sekitar 70 persen.

Jauh lebih banyak dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun), yang hanya mencapai 30 persen pada tahun 2020.

Menurut Habibie kelak bonus demografi akan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

“Jika kita bandingkan, di Eropa, China, dan Jepang, mereka kan lebih banyak orang tuanya, sedangkan di masa depan, Indonesia dijalanan oleh para pemuda. Ini saya optimistis masa depan Indonesia akan lebih baik,” ujar BJ Habibie.

Sharing

Tinggalkan komentar