Dubes Azerbaijan Minta Dukungan RI untuk Nagorno-Karabakh

Nagorno Karakbah

Jakarta – Duta Besar Azerbaijan Tamerlan Garayev mengungkapkan apa yang terjadi di Nagorno-Karabakh bukanlah sebuah konflik, tapi murni sebuah agresi militer dan okupasi oleh Armenia terhadap Azerbaijan. Hal ini dia ungkapkan, Kamis 30-8-2017 di Kedutaan Besar Azerbaijan, Jakarta.

Menurut Tamerlan Garayev, Armenia melakukan agresi militer terhadap salah satu wilayah yang secara internasional diakui sebagai milik Azerbaijan, yakni Nagorno-Karabakh. Agreasi terjadi sejak 1991 dan masih terus berlanjut. Atas dasar itu, Indonesia diminta bersuara untuk menghentikan agresi militer yang terjadi di kawasan tersebut.

“Sampai sekarang kini, pasukan Armenia masih menduduki wilayah Karabakh. Setiap hari, masih terdengar desingan peluru di seluruh penjuru daerah. Bahkan, terbaru, ada 2 warga sipil yang terbunuh oleh pasukan Armenia, seorang nenek dan balita berusia 2 tahun,” ujar Tamerlan Garayev.

Menurut Tamerlan Garayev, agresi Armenia terhadap Nagorno-Karabakh merupakan tragedi kemanusiaan yang brutal, yang sudah menewaskan ribuan orang dan ratusan ribu mengungsi.

“Kami bukanlah negara yang suka berperang. Kami ingin tragedi ini berakhir secara damai melalui dukungan komunitas internasional sebagai langkah mematuhi peraturan internasional,” ujar Tamerlan Garayev.

Salah satu usaha yang telah ditempuh pemerintah Azerbaijan adalah berhasil mendorong DK PBB mengeluarkan empat resolusi, yakni 822, 853, 874, dan 884.

“Tetapi kenyataanya, Armenia mengabaikan resolusi yang berisi penegasan mengenai wilayah Azerbaijan, dan seruan penarikan mundur pasukannya dari wilayah Azerbaijan yang diokupasi,” kata Tamerlan Garayev.

Tamerlan Garayev menyampaikan harapannya pada pemerintah Indonesia, sebagai salah satu anggota OKI, untuk mengambil sikap yang tegas atas agresi kemanusiaan yang dilakukan Armenia.

“Sebagai anggota OKI yang terbesar, kami berharap Indonesia dapat mengambil langkah konkret seperti yang dilakukan Turki, Arab Saudi, Pakistan, Bosnia atas agresi militer Armenia,” kata Tamerlan Garayev.

Secara hukum internasional, Karabakh masuk ke dalam teritori Azerbaijan. Tetapi sejak tahun 1991, perang dingin terjadi di antara keduanya sehingga mengakibatkan eskalasi meningkat di kawasan itu.

Sepanjang tahun 1991 hingga sekarang, korban konflik Azerbaijan – Armenia diperkirakan lebih dari 20.000 korban jiwa dan rakyat mengalami trauma mendalam akibat agresi tersebut.

Menurut Tamerlan Garayev, Armenia melakukan invasi ke Azerbaijan bermuara pada konflik teritorial dan pembumihangusan etnis tertentu. “Seperti negara dunia lainnya, Indonesia sadar dan mendukung integritas teritori Azerbaijan. Di samping itu, kami mempunyai hubungan bilateral dan multilateral yang kuat terhadap Indonesia,” jelas Duta Besar Azerbaijan Tamerlan Garayev. Antara, 1-9-2017.

Sharing

Tinggalkan komentar