Indonesia Pasca Pemilu 2014

Sekitar 60 pencari suaka dilaporkan telah menghilang ke dalam hutan Indonesia ketika kapal mereka mendarat di pantai Indonesia, akibat dipulangkan Australia (photo: Karen Michelmore / AAP)
Sekitar 60 pencari suaka dilaporkan telah menghilang ke dalam hutan Indonesia ketika kapal mereka mendarat di pantai Indonesia, akibat dipulangkan Australia (photo: Karen Michelmore / AAP)

Aksi provokatif tiga negara terhadap Indonesia akhir-akhir ini, adalah terstruktur dengan rapih dan satu komando. Tujuan ketiga negara itu dalam satu koridor dan kerjasama yang menguntungkan sesuai Piagam Commonwealth atau Persemakmuran.

Memang ada teori kebetulan dalam pandangan awam ketika Australia mendorong kembali pencari suaka ke wilayah Indonesia. Atau munculnya sekoci berwrna orange di perairan selatan, kemdian Singapura tiba-tiba melakukan protes terhadap penamaan KRI Usman-Harun. Selang bebehari kemudian tetangga timur melakukan pembakaran kapal nelayan Papua oleh militer PNG.

Setelah Malaysia gagal melaksanakan tugasnya dengan baik, tiga negara lain yang sesama bertuan pada Ratu Elisabet di Buckingham mengambil alih.

Yang menjadi pertanyaan dan seolah tadak terpikirkan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia adalah; Apakah ada skenario kebetulan-kebetulan yang bukan merupakan sebuah kebetulan…?

Pertama: Pemberian nama KRI Usman-Harun sebenarnya tidak seketika, perlu waktu dan sejak awal pembangunan kapal sudah dirumuskan. Lalu diputuskan tepatnya tanggal 12 Desember 2012 setelah melalui diskusi yang panjang, dan Singapura sebenarnya juga sudah tahu, lalu mengapa mempersalahkanya saat ini…?

Kedua: Australia yang mengalami pergantian tampuk pimpinan, sejak Tony Abboot menjadi Perdana Menteri memang terlihat bertolak belakang dengan Kevin Ruud atau Julia Gillard. Namun Abboot tadak punya pilihan selain memainkan perannya. Setidaknya sampai misi terselesaikan, sampai jelas siapa yang menjadi koleganya di Jakarta.

Ketiga: PNG yang selama ini nyaris tidak tercetak dalam berita di koran-koran Indonesia, yang tidak ingin belahan barat cendrawasih lebih makmur, hanya memainkan peran yang jadi bagian mereka. Kenapa mereka melakukan hal yang sadis di saat sekarang…?

Keempat: Indonesia sedang menjalani proses pergantian kepala negara dan akan menghadapi pemilu parlemen tahun ini. Ini adalah tahun yang krusial dan menentukan bagi Indonesia dan kawasan. Pemimpin Indonesia terpilih adalah yang paling berkuasa dan menentukan di ASEAN dan paling berpengaruh di Asia Pasifik, situasi politik indonesia akan menjadi hitungan kebijakan politik luar negeri setiap pemerintahan, khususnya kawasan pasifik. Ini bukan narsisme ini adalah kenyataan dimana dunia memandang posisi Indonesia sejak zaman era Bung Karno.

Amat disayangkan jika pemberian nama KRI Usman- Harun dipandang sebgai masalah ketidaknyamanan Singapura pada Indonesia. Demikian pula dengan pelecehan oleh Australia terhadap teritorial Indonesia hanya sebetas RI vs Aussie karena imigran gelap semata atau aksi bar-bar militer PNG pada nelayan kita hanyalah pelanggaran batas laut dalam kebetulan dan bersamaan? TIDAK…!

Ada pola yang tidak terdeteksi umum, sebab kita diarahkan agar melihat masalah dengan setiap negara itu adalah Hitam-putih, berdiri sendiri dan masing-masing. Padahal, kita seharusnya bersikap jeli dan kritis, dalam memantau perkembangan negara ini dan kaitannya dengan hubungan antar bangsa.

Kepentingan blok-blok global (Adi kuasa dan konco-konconya) atas keberadaan Indonesia sering tidak menjadi analisis awal, sehingga kita selalu terlambat bereaksi dan menentukan sikap dan posisi. Singapura, Malaysia, Australia dan PNG bekerja dalam satu irama dan terpola dengan satu komando.

Tujuannya adalah memastikan beberapa hal yang ingin diketahui dan dipastikan sesuai keinginan dengan memanfaatkan momentum pemilu 2014.

Kapal Nelayan Indonesia dibakar Tentara Papua New Guinea, 5 Nelayan tewas tenggelam (gambar: ilustrasi)
Kapal Nelayan Indonesia dibakar Tentara Papua New Guinea, 5 Nelayan tewas tenggelam (gambar: ilustrasi)

Dan kira-kira tujuannya seperti ini:

1.Memancing informasi kekuatan militer indonesia sesungguhnya.
Data yang dikumpulkan oleh agen-agen USA, Austalia, Singapore, Malay, New Zealand serta blok sekutu lainya di anggap tidak presisi. Ada perbedaaan antara anggaran yang minim, jumlah alutsista berbanding terbalik dengan daya gempur TNI. Militer Indonesia masih dianggap misterius oleh kekuatan utama dunia.

Seperti juga militer negara lain, memang seperti itulah TNI menjaga kerahasiaan kekuatannya. Namun, misteri kekuatan militer indonesia dianggap lebih penting untuk diukur karena faktor sejarah sebagai penggagas GNB yang disandangnya.

Australia yang selalu mengarahkan matanya pada militer indonesia sering merasa tertipu, ketika melihat kemampuan prajurit TNI. Malaysia sendiri harus merasakan malu ketika manuver mereka di ambalat terusir bukan hanya oleh kapal TNI yang lebih kecil dari pada kpal TLDM, tapi oleh marinir TNI yang berhasil naik ke anjungan kapal TLDM.

Entah bagaimana keduanya naik dan sejak kapan, yang jelas mereka berhasil memaksa Kapal TLDM berputar balik pulang ke negaranya. Dengan provokasi ini diharapkan akan muncul banyak informasi tentang kekuatan TNI dan persenjataanya scara resmi dari media–media maupun dari pemerintah Indonesia sendiri.

2. Memancing reaksi sahabat lama Indonesia.
Singapura sukses jalankan misinya setidaknya saat ini karena Rusia muncul ke permukaan dalam memandang masalah yang dianggap cukup hangat. Indonesia mungkin tidak berminat perang dengan Singapura, namun Rusia memandang perlu memberi sinyal bantuan jika kondisi berjalan tidak kondusif. Kemunculan Rusia ini tidak biasa dan bukan hal gegabah, karena si beruang merah cenderung menjauh di saat Orde Baru dan jaga jarak saat SBY berkuasa. Moscow sengaja menanggapi keusilan Singapura, namun mereka juga memberi pesan jelas akan posisinya yang melihat pola satu komando pada kelakuan PNG dan Australia.

Bukan berarti Rusia terjebak permainan Singapura, melainkan permainan selanjutnya yang lebih panas sedang menjadi sasaran Rusia yaitu, Indonesia tidak dibiarkan seperti Mesir atau Syria. Artinya, pesan jelas Rusia ditujukan pada Australia, Malaysia, PNG, SIagpura, USA, UKdan konco- konconya blok Sekutu, agar tidak mencoba memaksakan pemimpin sesuai pilihan mereka di Indonesia, seperti yang sudah mereka lakukan di Mesir dan Lybia atau mereka coba paksakan di Syria.

KRI Usman Harun (straitstimes.com)
Singapura larang KRI Usman Harun berlayar di negara mereka (straitstimes.com)

3. Pemimpin pesanan sang Adi kuasa dan konco-konconya.
Indonesia diharapkan memilih pemimpin yang sesuai selera Adi Daya, seseorang yang berpihak pada sekutunya di kawasan. Singapura yang kecil mungil tidak akan bisa hidup makmur jika Indonesia tidak memberi keistimewaan, demikian jug aAustralia, apalagi hegemoni Amerika akan jauh surut tanpa peran serta Indonesia. Penting juga diketahui Indonesia akan memihak siapa jika konflik LCS pecah.

Semua kepentingan di atas butuh seseorang yang sesuai keinginan dan menguntungkan adi daya dan sekutnya di kawasan. Seseorang itu sebaiknya mirip penguasa sekarang atau penguasa Orde baru. Meski dari kalangan militer dan keduanya jenderal, mereka berdua adalah anak emas yg tidak segan tunduk pada Amerika. Amerika tidak menyukai pemimpin yang idealis seperti Almrhum Gus Dur dan Nasionalis seperti Bung karno.

Kriteria presiden Indonesia yang diinginkan oleh Adi kuasa adalah latar belakang pengusaha, militer, idealisme liberal dan bukan nasionalis atau islamis.

Gangguan-gangguan yang bernuansa kekerasan dan militer oleh ketiga negara tersebut ditujukan untuk memberi gambaran potensi perang Indonesia. Dalam keadaan kondisi geoolitik kawasan yang tegang, diharapkan rakyat Indonesia memilih pemimpin dari kalangan militer. Apa yang dilakuakan oleh Singapura, Australia dan PNG adalah provokasi untuk menggiring opini bahwa Indonesia sekarang dan nanti masih butuh presiden dari kalangan militer. (written byAI / 21/02/2014)

Tinggalkan komentar