Tentara Filipina : Wanita dan Anak Menembaki Pasukan Kami

Tentara Filipina di Marawi

Kota Marawi – Tentara Filipina, yang berperang melawan pemberontak sekutu ISIS di kota Selatan, mengalami perlawanan senjata dari wanita dan anak-anak, ujar militer pada Senin 4-9-2017. Kejadian itu terjadi ketika pasukan melaksanakan tekanan tahap akhir guna menyelesaikan kemelut, yang berkecamuk lebih dari 100 hari itu.

“Kami berada di tahap akhir gerakan dan memperkirakan pertempuran lebih sengit. Kemungkinan banyak korban jatuh dari pihak kami ketika musuh semakin putus asa,” ujar Letnan Jenderal Carlito Galvez, kepala militer Mindanao Barat.

Letnan Jenderal Carlito Galvez mengatakan bahwa jumlah pemberontak pun semakin berkurang dan sejumlah kecil wanita dan anak-anak, kemungkinan besar anggota keluarga pemberontak, sekarang ini terlibat dalam pertempuran.

“Pasukan kami di lapangan melihat sejumlah wanita dan anak-anak menembaki pasukan. Oleh sebab itulah kami memperkirakan bahwa mereka kehabisan pasukan tempur,” ujar Letnan Jenderal Carlito Galvez . Lebih dari 800 orang tewas dalam pertempuran, sebagian besar dari mereka adalah pemberontak.

Pertempuran ini adalah tantangan keamanan terbesar bagi Filipina dalam beberapa tahun belakangan, meski sejarah pemberontakan yang dilancarkan oleh gerilyawan telah lama terjadi di Mindanao, sebuah pulau berpenduduk 22 juta orang yang sudah dinyatakan berada di bawah darurat militer sampai akhir tahun ini.

Pertempuran sengit dan pertahanan kuat dari kubu pemberontak menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok garis keras itu, yang setia kepada ISIS dan menjalin hubungan dengan pemberontak sejumlah negara dalam membentuk persekutuan dengan baik, dengan pendanaan dan pasokan senjata, serta mempunyai kesungguhan dalam memperjuangkan wilayahnya di Mindanao.

Dengan mengutip keterangan 4 orang sandera, yang lolos dari tawanan pemberontak, Letnan Jenderal Carlito Galvez mengatakan bahwa terdapat 56 orang sandera, kebanyakan dari mereka wanita, serta sekitar 80 penduduk pria, yang kemungkinan dipaksa bergabung dengan mereka untuk melawan militer. Antara/Reuters.

Sharing

Tinggalkan komentar